RADAR JOGJA – Angka kasus terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Sleman hampir menyentuh angka 1.000 kasus. Lonjakan kasus hampir terjadi setiap harinya. Mayoritas adalah hasil kontak tracing per kasus.

Berdasarkan catatan Satgas Covid-19 Sleman 86,5 persen kasus adalah asimptomatik. Artinya mayoritas pasien tidak menunjukan gejala sakit Covid-19.

“Ini catatan kami yang dilaporkan per tanggal 21 September ada 348 kasus aktif. Nah 86,5 persen diantaranya itu OTG (asimptomatik),” jelas Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo, Rabu (23/9).

Ada beberapa hipotesa munculnya lonjakan kasus asimptomatik. Salah satunya adalah community transmision. Kasus penularan telah terjadi dalam komunitas masyarakat yang lebih luas, Potensi penularan tergolong tinggi.

“Community transmision menurut saya sudah terjadi. Ini karena penularan atau kasus tertular sudah dari orang yang kita tidak tahu. Beda dengan kasus-kasus awal dulu,” katanya.

Dinkes Sleman, lanjutnya, juga menggiatkan tracing kontak erat. Oleh karena itu terjadi lonjakan kasus secara simultan. Menurutnya ini adalah wujud konsekuensi dari tracing kasus. Tak hanya kontak erat tapi juga kontak ring 2.

Kebijakan ini bertolak belakang dengan salah satu poin Revisi V Permenkes. Bahwa tak perlu ada tracing untuk melacak sebuah kasus. Bagi timnya, pelacakan sebuah kasus haruslah tuntas. Tujuannya untuk memutus mata rantai persebaran Covid-19.

“Semakin banyak kasus maka tracing semakin banyak, maka peluang kasus baru juga tinggi. Revisi V kan tidak perlu tracing, tapi kami tidak terapkan. Tetap tracing kontak erat dan kontak ring 2,” ujarnya.

Umumnya angka tracing kontak erat mendominasi akumulasi kasus. Urutan setelahnya adalah tracing tenaga kesehatan. Kemudian tracing kasus secara umum seperti riwayat perjalanan luar daerah.

Angka kesembuhan pasien Covid-19 di Sleman juga menurun. Pada awal September presentase kesembuhan pasien mencapai 86 persen. Memasuki akhir bulan presentase kesembuhan turun hingga 76 persen.

“Memang masih diatas kesembuhan nasional 75 persen. Kalau seperti imbauan ngarso ndalem (Hamengku Buwono X) memang wajib jaga kesehatan. Ada komorbid juga bahaya, misal tidak ada (komorbid) kena covid, 10 hari sudah sembuh,” katanya. (dwi/tif)

Sleman