RADAR JOGJA – Jumlah kasus positif Covid-19 masih bertambah di Sleman, hal tersebut berbanding lurus dengan semakin bertambahnya jumlah penghuni Asrama Haji Sleman. Saat ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mengoptimalkan tempat tersebut untuk shelter pasien asimtomatik atau tanpa gejala klinis (OTG).

Saat ini, penghuni asrama haji tersebut sebanyak 158 orang. “Hingga Sabtu (19/9) pukul 20.30 malam ada 92 orang yang karantina di asrama haji,” kata Juru Bicara penanganan Covid-19 Sleman Shavitri Nurmala Dewi saat dikonfirmasi, Minggu (19/9).

Dikatakan, masih tersisa untuk 66 orang. Sehingga, masih sangat memungkinkan jika Asrama Haji Sleman untuk karantina, terutama pasien positif asimtomatik.

Shavitri mengatakan, pasien tersebut berada di Gedung Muzdalifah dan Gedung Makkah. Di Gedung Makkah lantai tiga terdiri dari 31 pasien dan lantai empat terdiri 34 pasien. “Sedangkan, Gedung Muzdalifah lantai satu ada 14 pasien, dan di lantai tiga ada dari 13 pasien. Kebanyakan dari mereka adalah pasien asimtomatik,” katanya.

Seperti diketahui, pasien positif asimtomatik diperkenankan untuk karantina mandiri di rumah. Namun, setelah di Sleman ditemui pasien asimtomatik semakin meningkat dan mendominasi, Dinkes Sleman tidak ingin mengambil risiko.

Sebelumnya Joko mengatakan, per Sabtu (1/9) pasien asimtomatik di Sleman terkonfirmasi sebanyak 88,9 persen. Kemudian, pihaknya membuka kembali asrama haji dan dioptimalkan untuk pasien positif asimtomatik tersebut dan pasien reaktif. “Boleh isolasi di rumah tetapi harus memenuhi syarat. Namun, tetap diharapkan untuk isolasi di asrama haji,” sambung dia.

Jika terjadi lonjakan kasus dan asrama haji tersebut sudah memenuhi kapasitas. Joko mengatakan, kemungkinan akan memanfaatkan Rusunawa Gemawang untuk karantina.

Disebutkan, kedisiplinan masyarakat sangatlah penting. Tak menutup kemungkinan, pasien asimtomatik melakukan idoalasi mandiri tetapi harus dipastikan rumah memenuhi syarat dan memiliki ruangan untuk isolasi mandiri. (cr1/bah)

Sleman