RADAR JOGJA – Sudah hampir dua bulan laporan dugaan pencabulan anak oleh tetangganya sendiri ke Polres Sleman belum ada kejelasan. Alasannya karena kurangnya alat bukti. Tapi setiap hari sang bocah ketakutan jika bertemu tetangganya. Hingga divonis depresi ringan.

Bocah umur sembilan tahun domisili di Desa Jambon, Gamping, Sleman diduga menjadi korban pelecehan seksual dari tetangganya sendiri. Anak bungsu dari tiga bersaudara kini diungsikan ke rumah saudaranya. “Saya syok dan tidak menyangka,” kata ibu korban dengan inisial Y itu sambil menangis tersedu-sedu saat ditemui di rumahnya, Rabu (9/9).

Y menyebutkan, anaknya mengalami hal yang tidak mengenakkan tersebut pada Sabtu (11/7) malam. “Satu hari setelah kejadian tepatnya malam Senin, anak saya baru bercerita. Pada Senin (13/7) saya baru melaporkan ke Polres Sleman,” ungkap perempuan 45 tahun itu.

Terduga pelaku tersebut berinisial Sdro, 40. Menurut pengakuan Y, kejadian bermula ketika anak Y akan meminjam sepeda ke rumah Sdro, namun di rumah Sdro yang hanya berjarak kurang lebih 20 meter dari rumah korban tersebut sedang berada di rumah sendiri. “Anak saya sudah biasa meminjam sepeda ke sana,” katanya.

Tapi dari pengakuan anaknya, di rumah itulah Sdro melaksanakan perbuatan bejatnya. “Anak saya diancam, kalau anak saya berani bilang tentang kejadian itu. Anak saya diancam orangtuamu akan saya bunuh,” begitu katanya.

Hingga dua bulan lebih melapor, sampai saat ini belum mendapatkan titik temu dari pihak kepolisian. Karena minimnya alat bukti yang diserahkan oleh orang tua korban. “Sudah berbulan-bulan kami menunggu tetapi belum ada kejelasan. Kami butuh keadilan, anak kami butuh keadailan,” tegas dia.

Y menyebutkan, ada pro kontra dari pihak tetangganya terkait kejadian yang menimpa anak yang sedang duduk dibangku kelas 4 SD itu. Keluarga Y merupakan pendatang dari Lampung sejak 2018 silam dan terduga pelaku merupakan warga setempat. “Ada yang bilang anak saya mengada-ada, mengarang cerita,” sebut Y.

Anak Y sudah beberapa kali, yakni sudah lebih dari lima kali melakukan tes kejiwaan atau konseling psikologis dengan beberapa psikolog. Terakhir, dia menjalani konseling di poli kejiwaan di RSUP dr Sardjito dengan hasil visum dan dikatakan mengalami depresi ringan.

Selama satu bulan di rumahnya, yakni hingga Agustus sebelum dia diungsikan ke rumah saudaranya, anak Y mengalami depresi. “Setiap melihat pelaku dia langsung menuju kamar, tetapi setiap melihat istri pelaku anak saya biasa aja. Bahkan, anak saya berkata bahwa dia malu dengan istri pelaku. Anak saya susah tidur dan susah makan, makan harus saya suapin,” ujar dia.

Sementara, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sleman Ajun Komisaris Polisi (AKP) Deni Irwansyah mengatakan, pihaknya akan terus memantau dan mengecek kasus tersebut ke unit PPA Polres Sleman. “Saya cek ke unit PPA Polres Sleman,” katanya. (cr1/pra) 

Sleman