RADAR JOGJA – Sleman miliki dua alat polymerase chain reaction(PCR) baru. Dengan alat tersebut, uji spesimen akan menjadi lebih cepat. “Alat tersebut kini berada di RSUD Sleman, sudah datang pada Jumat  (28/9) sore,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo saat dikonfirmasi pada, Rabu (3/9).

Penempatan diletakkan di RSUD Sleman, karena harus ada pengawasan khusus. Yakni, harus diawasi oleh spesialis ahli patologi klinik. “Kalau di RSUD Seman ada dua ahli,” sebutnya.

Dua alat PCR tersebut diletakkan di ruang khusus dan juga telah diatur secara khusus. Ada anterum, ada tempat pemeriksaan, tempat menyimpan spesimen, dan sebagainnya.

Joko menyebutkan, alat yang didatangkan dari USA tersebut sudah ada, tetepi reagennya belum ada. “Jadi belum bisa untuk memeriksa karena harus ada reagennya dulu. Selain itu juga harus ada izin dari Kemenkes,” katanya.

Saat ini terkait izin masih proses, karena harus menunggu visitasi dari Dinas Kesehatan DIJ terlebih dahulu. Kemudian, bisa diajukan izin ke Kemenkes.

Dikatakan, dua alat PCR tersebut sudah memenuhi kualifikasi. “Alat itu juga  sudah tersebar di seluruh Indonesia sudah banyak. Artinya, sudah sesuai kriteria dari Kemenkes,” kata Joko.

Hasil uji spesimen menggunakan alat tersebut akan keluar setelah 24 jam. “Hanya keterbatasan reagen ini yang merepotkan. Karena sehari hanya bisa memeriksa 120 spesimen saja. Untuk reagen minggu ini sudah datang,” tutur dia.

Kedua alat tersebut diadakan dari dana tak terduga APBD Sleman. “Satu alat harganya Rp 575 juta. Kalau total dengan reagennya Rp 2,8 Miliar. Untuk sampai akhir Desember,” sambung dia.

Rencananya, alat tersebut akan digunakan untuk screening tenaga kesehatan (nakes) RSUD Sleman terlebih dahulu.  “Setelah itu termasuk juga untuk meneruskan yang screening pondok pesantren yang sempat tertunda. Akan kami periksa juga di PCR itu,” ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan, pembelian PCR ini untuk mempercepat penanganan kasus Covid-19 di Sleman. “Dengan alat ini hasil swab menjadi lebih cepat, jadi penanganan bisa lebih cepat,” ungkapnya. (cr1/bah)

Sleman