RADAR JOGJA – Penggunaan kartu tani guna mendapatkan pupuk bersubsidi bagi petani mulai dipercepat oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Meskipun demikian, adanya kartu tani dinilai memberatkan petani.

Ketua Forum Petani Kalasan Janu Riyanto mengaku bingung dengan adanya kartu tani. Bukannya memudahkan petani, berbagai aturan untuk mendapatkan kartu tani dinilai ribet. Mulai dari petani harus menabung ke salah satu bank yang ditunjuk pemerintah. Untuk bisa mendapatkan kartu berisikan saldo dan digunakan untuk pembelian pupuk bersubsidi di kios. “Banyak petani tua dan buta huruf. Tidak tahu atau tidak pernah ke bank,” jelas Janu Selasa (1/9).

RADAR JOGJA FILE

Janu juga menyayangkan adanya subsidi pupuk urea hanya 125 kilogram per hektar. Sehingga, total jatah alokasi pupuk bersubsidi hanya 12,5 kilogram per 1.000 meter bagi petani. Melihat angka tersebut, Janu pesimistis jika pupuk bisa mencukupi mulai dari masa tanam hingga panen.

Normalnya, kebutuhan pupuk mulai tanam hingga panen sebanyak 25-50 kilogram. Jumlah ini bisa bertambah atau berkurang, menyesuaikan keadaan lahannya. “Jelas tidak mungkin cukup (pupuk subsidi 12,5 kilogram, red) untuk memenuhi kebutuhan tanam. Dan jika kurang, harus membeli pupuk non subsidi yang harganya jauh lebih mahal,” tambahnya.

Dikatakan jika kebijakan kartu tani tetap dilaksanakan, justru jumlah pupuk subsidi akan semakin berkurang. Meskipun dinilai tidak menguntungkan petani, Janu mengaku tidak bisa berbuat banyak. Mengingat kebijakan tersebut telah dibuat oleh pemerintah. “Katanya mau swasembada pangan, tapi petani bingung, aneh,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Heru Saptono menuturkan, adanya program kartu tani untuk subsidi pupuk kimia akan diterapkan menyeluruh. Hal ini dilakukan karena kecenderungan petani yang menggunakan pupuk kimia dosisnya berlebih. Dikhawatirkan, akan membuat tanah tidak subur. Ditambah jika dicampur dengan pupuk organik, akan terjadi residu dan membuat tanah menjadi bantat.

Dengan dibatasinya pupuk kimia bersubsidi, tambah Heru, pihaknya akan mendorong penggunaan pupuk organik masuk ke sawah. “Dengan pengurangan subsidi pupuk lewat kartu tani, akan diikuti dengan edukasi peningkatan penggunaan pupuk organik,” kata Heru.

Terkait soal kartu tani, Heru mengaku belum tentu setuju sepenuhnya. Terlebih kesiapan bagi petani dan kios yang digunakan untuk menggesek kartu tani. Bagi petani yang sudah memiliki kartu, juga perlu melakukan aktivasi kartu kembali. “Dan belum semua kios sudah memiliki mesin electronic data capture (EDC),” ungkap Heru. (eno/bah)

Sleman