RADAR JOGJA –  Tak dipungkiri pandemi Covid-19 memang berdampak pada seluruh sendi ekonomi. Sektor hiburan yang merupakan kebutuhan tersier pun juga terdampak, sehingga pekerja panggung dapat dikatakan mati suri selama beberapa bulan terakhir.

Dampak pandemi terhadap pelaku industri hiburan itu diakui oleh pedangdut sekaligus penulis lagu berbahasa Jawa, Agung Pradanta. Ditemui saat melakukan pertemuan bisnis di Weslake Resto, Sleman, Kamis (27/8) malam, pelantun lagu Kependem Tresno itu mengaku harus banting stir berjualan kue basah untuk bertahan hidup akibat sepi tawaran manggung.

“Lima tahun saya di jalur dangdut, kondisi akhir-akhir ini memang paling berat. Untuk bertahan hidup, saya jualan kue basah secara online,” ungkap Agung.

Meskipun harus pontang-panting memenuhi pesanan, kue-kue tradisional itu pulalah yang menjadi jalan bagi Agung kembali untuk kembali berkarya. Pada akhir bulan Juli, ada pesanan kue yang harus dia antarkan, yang ternyata dari seorang rekan Bakal Calon Bupati Sleman Danang Wicaksana Sulistya (DWS).

“Awalnya saya tidak tahu kalau pesanan itu dari teman Mas DWS. Hanya harus diantar ke sebuah alamat, yang ternyata kue-kue tradisional itu mau dipakai suguhan karena kedatangan Mas DWS itu,” kisahnya.

Saat mengantar, Agung mengaku kaget karena dikenali oleh tamu di pintu rumah pemesan yang tidak lain adalah DWS.

“Lho njenengan ini yang nyanyi Kependem Tresno bukan?,” kata Agung menirukan sapaan DWS kepadanya.

DWS menanyakan kabar dan apa kegiatannya selama pandemi yang dijawab oleh Agung bahwa dirinya sementara berhenti berkarya karena tidak ada tawaran manggung dan menunggu kondisi dunia hiburan kembali normal. Selain itu, Agung juga mengungkapkan dirinya sedang tidak memiliki modal untuk melakukan rekaman materi lagu di studio.

“Mas DWS malah nawari saya untuk bantu biaya rekaman,” ungkapnya.

Dia menuturkan, meskipun memberikan bantuan untuk proses rekaman namun DWS tidak memesan lirik atau tema lagu tertentu. Agung kemudian merekam lagu berjudul Dalan Sleman, sebagai ungkapan perasaan bangga kepada kampung halamannya.

DWS bahkan sempat memberikan waktu untuk ikut tampil dalam video klip lagu Dalan Sleman yang pengambilan gambarnya dilakukan pada awal bulan Agustus ini.

Koinsidensi kembali terjadi saat DWS melakukan konferensi pers di Westlake Resort, Kamis (27/8) malam. Agung pada sore harinya mengadakan temu janji dengan panitia yang menawarinya manggung di wilayah Jawa Timur. Secara kebetulan dia mendapat informasi dari pihak resto, akan ada konferensi pers pengumuman nama pendamping DWS pada malam harinya.

“Saya tunggu saja, setidaknya pingin salaman lah, karena bagaimanapun saya pernah dibantu,” katanya.

Agung kemudian akhirnya dapat bertemu dan berfoto dengan DWS di sela-sela kegiatannya melakukan konferensi pers pencalonan.

“Ini seperti suntikan semangat buat kami, pekerja panggung yang sedang terpuruk ini,” ujarnya.

Dia berharap, ke depan Sleman semakin ramah untuk pekerja kreatif. Sebagai sebuah kabupaten yang merupakan bagian dari provinsi yang kental nuansa seni budayanya, Agung berharap Sleman terus membuka ruang-ruang apreseasi untuk kalangan seniman.

Panggung bebas menjadi hal yang sederhana namun memberikan manfaat besar kepada seniman panggung seperti Agung.

“Untuk ajang tes mental gitu, selain bisa untuk alternatif hiburan masyarakat Sleman,” kata Agung.

Ditanya mengenai kesannya kepada DWS, Agung menjawab dengan diplomatis. Bagi dia, DWS adalah sosok muda yang mudah akrab, tidak kaku dan tidak berjarak. Dengan komunikasi yang lebih akrab, Agung yakin akan banyak masalah yang dapat dicarikan jalan keluar bersama.

“Kalau bupatinya muda dan luwes, jadi kita generasi muda kalau ada kepentingan, tidak segan dan enak mengakses beliau,” kata Agung. (obi/ita/ila)

Sleman