RADAR JOGJA – Aksi penolakan Gejayan Memanggil oleh warga sekitar jalan Affandi berlanjut. Kali ini perwakilan padukuhan Mrican dan Papringan, Caturtunggal, Depok, Sleman mendatangi Mapolda DIJ. Tujuannya menyerahkan kesepakatan bersama untuk menolak aksi serupa di kawasan jalan Affandi.

Kadus Mrican Sunardi menuturkan penolakan murni berasal dari warga. Pada awalnya warga memang menaruh simpati atas adanya aksi tersebut. Namun seiring waktu berjalan, rasa simpati memudar. Penyebabnya adalah massa aksi yang tak sesuai aturan.

“Kami sebenarnya tidak menolak aspirasi dan bentuk kritis adik-adik mahasiswa kepeda kebijakan kampus atau Pemerintah. Tapi kami menyayangkan pemilihan lokasi. Mbok ya jangan di jalan Gejayan,” tegasnya, ditemui di Gedung Ditbinmas Polda DIJ, Kamis (27/8).

Penolakan warga, lanjutnya, sangatlah beralasan. Kawasan jalan Affandi tepatnya padukuhan Mrican didominasi pelaku ekonomi. Sebanyak 40 persen merupakan golongan ekonomi menengah ke bawah. Didominasi oleh para tukang parkir, pedagang, penjaja kuliner hingga penjual aksesoris gawai. Aksi Gejayan Memanggil berimbas pada penutupan sejumlah ruas jalan Affandi. Tentunya ini berdampak pada perekonomian lokasi tersebut.

“Apabila dilakukan terus-terusan tentu berdampak pada ekonomi warga yang mengandalkan jalan Affandi. Kami melihat aksi tersebut berubah jadi komoditi,” katanya.

Tak hanya sektor ekonomi, kenyamanan dan keamanan warga turut terganggu. Pertama bergesernya aksi menjadi aksi bakar di tengah jalan. Lalu pengalihan arus lalu lintas yang melalui gang-gang kecil perkampungan.

Dia juga menyampaikan keberatan warga. Terutama atas diusungnya nama Gejayan Memanggil. Menurutnya penyematan nama ini kuranglah tepat. Alasannya tak ada warga kawasan Gejayan yang memanggil atau mengumpulkan peserta aksi.

“Monggo silakan sampaikan aspirasi tapi pada tempat yang tepat sehingga tidak menganggu kami sebagai warga masyarakat yang notebene ekonomi bergantung di jalan,” ujarnya.

Keberatan juga disampaikan oleh perwakilan warga Papringan Budi. Diketahui bahwa warga kampung tersebut sempat bentrok dengan peserta aksi. Tepatnya di simpangtiga UIN Sunan Kalijaga.

Dia memastikan bahwa warga tersebut berasal dari Papringan. Adanya aksi pembubaran karena warga merasa ekonomi terganggu. Terlebih lokasi tersebut menghubungkan sejumlah ruas jalan ramai di Jogjakarta.

“Kami itu takut karena aksinya kemarin sampai bakar-bakar. Lalu saya pastikan, warga yang protes kemarin bukan warga bayaran. Mereka warga kami yang keberatan dengan adanya aksi itu,” tegasnya.

Sama halnya dengan Sunardi, Budi sejatinya tak menolak aksi penyampaian aspirasi. Hanya saja perlu mengikuti tatanan yang berlaku. Mulai dari adanya pemberitahuan hingga konsep aksi. Paling utama tak memblokade ruas jalan utama.

“Silakan demo kami tidak akan menolak tapi sewajarnya saja dan sesuai perijinan. Kalau bisa jauh dari tempat mencari nafkah,” pesannya.

Dirbinmas Polda DIJ Kombes Pol Anjar Gunadi menyambut baik aspirasi warga Padukuhan Mrican dan Papringan. Dia memahami bahwa lokasi aksi merupakan titik sendi perekonomian. Sehingga pemilihan lokasi berdampak pada aktivitas harian.

Dia berjanji akan menyampaikan aspirasi kepada penyelenggara aksi. Setidaknya menyampaikan uneg-uneg warga kepada koordinator aksi. Sehingga ada titik tengah tengah dalam menyelenggarakan aksi.

“Demo menurut Undang-undang boleh tapi harus bijak. Tidak harus membakar mengganggu, justru disampaikan dengan santun dan tempat yang baik. Adik-adik mahasiswa ini keluarga kita juga, tapi eforia semangatnya nanti kami diskusikan kembali,” janjinya. (dwi/tif)

Sleman