RADAR JOGJA – Dinamika kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) cukup tinggi. Pada pertengaha Juni lalu sempat melandai hingga akhirnya melonjak drastis di penghujung Juni. Rata-rata mengalami pertambahan puluhan kasus perharinya.

Dampak kasus ini adalah tingkat ketersediaan tempat tidur rawat inap isolasi. Tercatat DIJ memiliki 321 tempat tidur rawat inap isolasi. Dari total tersebut kini 166 di antaranya telah terpakai.

“Sebagaimana diketahui rumah sakit di DIJ ada 27 yang ditunjuk melakukan pelayanan Covid-19. Total ada 321 tempat tidur dan 29 diantaranya buat kritikal. Kalau kritikal yang dipakai sudah 16 unit atau bed,” jelas Direktur Utama RSUP Sardjito Rukmono Siswishanto ditemui di RSUP Sardjito, Senin (24/8).

Rukmono mengakui adanya lonjakan kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Pertambahan signifikan terjadi akhir Juni hingga Agustus. Bahkan dalam perhari bisa terjadi penambahan hingga 40 kasus.

Berdasarkan data tersebut, RSUP Sardjito masih merawat 22 pasien. Detilnya tujuh pasien kritikal dan 15 pasien non kritikal. Dalam daftar 15 pasien non kritikal diantaranya 9 pasien yang masih menunggu hasil swab. 

“Bulan Juni sudah turun lalu ada kenaikan menjelang Agustus. Dari yang biasanya 2 hingga 3 kasus jadi puluhan kasus perhari. Sebagian besar non kritikal atau tanpa gejala,” katanya.

RSUP Sardjito telah menerapkan acuan revisi V Kemenkes. Tidak semua pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dirawat di rumah sakit rujukan. Fokus utama perawatan adalah kepada pasien positif Covid-19 kategori simtomatik.

Ketua Tim Airbone Disease RSUP Sardjito Ika Trisnawati menuturkan penerapan berlangsung sejak 1 Agustus.

Pasien asimtomatik dirawat isolasi di shelter atau rumah sakit darurat. Adapula penerapan isolasi mandiri di rumah dengan sejumlah catatan. Diantaranya kondisi lingkungan khususnya rumah ideal untuk merawat pasien Covid-19.

“Syaratnya ruangan harus tersendiri. Alat makan, mandi dan cara mencuci baju pasien juga terpisah dengan anggota keluarga lain. Lalu tidak boleh ada usia rentan atau orang dengan komorbid,” ujarnya.

Ika turut menjabarkan korelasi komorbid dengan Covid-19. Berdasarkan data, potensi mortalitas atau resiko tinggi didominasi pasien dengan komorbid. Riwayat ini berdampak pada harapan hidup pasien.

Hipotesa yang kini menjadi acuan ini hampir terjadi di seluruh kasus mortalitas dan pasien resiko tinggi. Komplikasi ini menyebabkan kondisi kesehatan pasien menurun drastis. Sehingga tak jarang pasien golong ini tergolong dalam pasien kritikal.

“Tindakan medis berupa pemantauan ketat dan terapi agresif. Kondisi komorbid itu menyebabkan perburukan bisa terjadi dengan cepat dan tiba-tiba,” jelasnya.

Ika mencontohkan kasus meninggalnya tenaga medis asal Sleman. Saat pertama dirawat, kondisi pasien tergolong stabil. Tiba-tiba terjadi perubahan kondisi kesehatan secara tiba-tiba. Diketahui bahwa pasien tersebut memiliki riwayat komorbid.

Dia mewanti-wanti agar masyarakat tetap menjaga kesehatan. Tak hanya penerapan protokol Covid-19 tapi juga pola hidup sehat. Termasuk mengontrol pola konsumsi yang berpotensi menimbulkan sakit berat.

“(Penderita Covid-19) memiliki risiko kematian tinggi pada orang dengan obesitas, diabetes, hipertensi, jantung atau kolesterol. Ditambah penyakit paru kronis lain, lalu kanker, gagal ginjal atau liver. Akan mempengaruhi atau memperburuk kondisi fisik pasien jadi penting untuk menjaga kesehatan,” pesannya. (dwi/tif)

Sleman