RADAR JOGJA – Satu lagi tenaga medis gugur pasca terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Dokter berinisial NJ ini bekerja di salah satu rumah sakit (RS) swasta Kabupaten Sleman. Dia dinyatakan positif sejak 14 Agustus dan meninggal Minggu (23/8). Sempat pula menjalani rawat inap isolasi di RSUP Sardjito.

Direktur Utama RSUP Sardjito Rukmono Siswishanto membenarkan informasi tersebut. Dalam kesempatan ini, dia meluruskan bahwa dokter tersebut tidak bekerja di rumah sakit miliknya. Hanya, seluruh perawatan dilakukan di RSUP Sardjito.

“Pasien ini memang seorang ahli bedah yang dirawat di rumah sakit Sardjito, benar dokter. Tapi bukan dokter kami,” jelasnya ditemui di RSUP Sardjito, Senin (24/8).

Rukmono enggan membeberkan data diri sang pasien. Termasuk kewenangan pasien selama menjadi dokter. Menurutnya, kewenangan informasi tersebut berada di pihak manajemen rumah sakit bersangkutan.

Di satu sisi, pihaknya juga belum mengetahui peran dokter tersebut. Terutama selama pandemi Covid-19 di rumah sakit swasta tersebut. Hanya, dia membenarkan pasien ini terkonfirmasi positif Covid-19.

“Kalau peran dokter itu bukan wewenang kami untuk menjawab. Kami hanya membenarkan informasi dirawat di sini dan meninggal pasca perawatan,” katanya.

Ketua Tim Airbone Disease RSUP Sardjito Ika Trisnawati memastikan pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Pasien ini menjalani rawat inap isolasi sejak 14 Agustus. Status saat masuk RSUP Sardjito telah positif Covid-19.

Selang dua hari pasca masuk RSUP Sardjito, pasien langsung dipindahkan ke ruang isolasi khusus. Kondisi pasien, lanjutnya, masih baik. Hanya saja terdapat riwayat penyakit penyerta atau komorbid.

“Saat masuk 14 Agustus sudah terkonfirmasi (Covid-19) satu atau dua hari sudah terkonfirmasi lalu dibawa ke Sardjito. Saat diperiksa, pasien ini juga memiliki cukup banyak komorbid,” ujarnya.

Kondisi ini menjadi pertimbangan untuk meningkatkan perawatan. Selain Covid-19 juga pertimbangan komorbid. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat mempengaruhi tingkat kestabilan pasien.

Di satu sisi, Ika enggan menyebutkan komorbid pasien. Walau begitu dia memastikan penanganan tetap optimal. Tak hanya terhadap Covid-19 tapi juga komorbid yang diderita. Sayangnya, seiring waktu kondisi pasien terus memburuk.

“Komorbid ini memperburuk kondisi kesehatan pasien. Bisa terjadi dengan cepat, apalagi komorbid tak hanya satu tapi ada bahkan lebih. Sehingga sangat mempengaruhi,” katanya. (dwi/ila)

Sleman