RADAR JOGJA – Karyawan fasilitas pelayanan medis berpotensi tinggi terpapar Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Berdasarkan data Satgas Covid-19 Pemprov DIJ ada 2 persen dari 8.000 karyawan pelayanan medis positif Covid-19. Seluruhnya merupakan hasil pemetaan oleh Dinas Kesehatan wilayah.

Juru bicara Satgas Covid-19 Pemprov DIJ Berty Murtningsih tak menampik angka bisa bertambah. Terlebih jika upaya pemetaan atau screening masing berlangsung. Mulai dari tingkat Puskesmas hingga rumah sakit.

“Kalau screening karyawan kesehatan sudah sekitar 8.000an. Yang positif sekitar 2 persen. Untuk Puskesmas sudah selesai, sedangkan yang Rumah Sakit masih berlangsung,” jelasnya, Senin (24/8).

Dirut RSUP Sardjito Rukmono Siswishanto mengakui setiap tenaga medis berpotensi terpapar Covid-19. Hanya saja ada kebijakan yang bisa mengantisipasi penularan. Salah satunya adalah penerapan persyaratan baku bagi tenaga medis yang bertugas.

RSUP Sardjito memiliki kebijakan khusus. Tenaga medis yang bertugas di pelayanan Covid-19 tidak boleh berusia diatas 60 tahun. Termasuk tenaga medis yang memiliki riwayat komorbid atau penyakit kritis.

“Kami buat aturan dokter usia diatas 60 tahun tidak boleh merawat pasien Covid. Di bawah itu (usia 60 tahun) juga tidak boleh kalau punya komorbid. Lalu sedang hamil juga tidak kami perkenankan,” katanya.

RSUP Sardjito memiliki kebijakan ketat bagi tenaga medis. Bagi yang bersentuhan langsung dengan pasien positif Covid-19 wajib mengenakan alat pelindung diri (APD) minimal level III.

“Petugas kesehatan standarnya sama untuk APD. Pasien positif covid masuk zona merah maka pakai APD level III,” ujarnya.

Kebijakan ini sekaligus menjelaskan kewajiban tes swab. Setiap tenaga kesehatan yang bertugas tak wajib menjalani tindakan medis ini. Pertimbangannya adalah penggunaan APD level III.

Walau begitu Rukmono tak menampik potensi terpapar masih ada. Terutama bagi tenaga medis yang memiliki mobilitas tinggi di lingkungan ruang publik.

“Seorang petugas kesehatan yang pernah interaksi atau merawat pasien positif Covid-19 tidak perlu swab, karena sudah dapat perlindungan sesuai standarnya. Tapi apabila ada kebocoran misal mobilitas, ini yang kami tidak tahu,” katanya.

Rukmono memastikan upaya pemetaan tetap berlangsung ketat. Apabila memiliki gejala seperti batuk atau pilek maka wajib lapor. Untuk kemudian dilakukan pemeriksaan medis secara mendetil.

“Kalau ada gejala, apakah perlu swab atau tidak. Kami tanyakan riwayat kontak dan perjalanan. Kesimpulannya sepanjang menggunakan APD sesuai tingkat resiko maka tidak lakukan swab. Dilakukan apabila secara klinis ada tanda awal,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman