RADAR JOGJA – Bupati Sleman Sri Purnomo memastikan pengadaan alat penguji swab telah masuk dalam APBD perubahan. Hanya saja belum diketahui pembelian dari alat medis tersebut.

APBD Perubahan, lanjutnya, telah diajukan ke Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (HB X). SP, sapaannya, juga memastikan draft tersebut telah dikoreksi oleh HB X. Pembelian alat ditargetkan tahun ini.

“Kalau penawaran alat langsung Dinkes (Sleman). Saya tidak mau masuk dalam pengadaannya. Target datang tahun ini dan bisa langsung action,” jelasnya, Kamis (19/8).

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo menargetkan alat penguji swab tiba sekitar Agustus. Walau dalam status tanggap darurat, namun pengadaan barang tetap dikawal oleh Bagian Pengadaan Barang dan Jasa.

Anggaran yang dikucurkan sebesar Rp 1,6 Miliar untuk satu alat penguji swab PCR. Pembelian ini dilengkapi dengan Reagen. Perencanaan awal, pengadaan alat berjumlah dua unit. Sebelum akhirnya direvisi.

“Tetap dikawal bagian pengadaan barang dan jasa agar tak ada kesalahan. Targetnya Minggu depan bisa terealisasi. Kalau rencana memang 2 unit, tapi mending alat satu lalu beli Reagen untuk 1000 pertama,” katanya.

Pemkab Sleman, lanjutnya, menunjuk pihak yang mampu memenuhi persyaratan administrasi dan kebutuhan alat. Walau penunjukan namun tetap ada prosedur baku. Paling utama adalah alat yang dibutuhkan sesuai kebutuhan. Setidaknya spesifikasi alat mampu melakukan pengujian specimen dalam satu hari.

“Kami juga mengajukan syarat. Penjual wajib menguruskan ijin dari Kementerian Kesehatan atau BNPB. Sudah paket dalam pengadaan barang,” ujarnya.

Pertimbangan pembelian alat uji specimen adalah efektifitas tracing dan screening. Selama ini antrian di kelima laboratorium penguji terlalu lama. Penyebabnya adalah lonjakan specimen dari seluruh wilayah DIJ.

Adanya alat baru ini diharapkan mampu mengoptimalkan upaya tracing dan screening. Sehingga pemetaan persebaran Covid-19 menjadi lebih efektif. Langkah ini juga mencegah persebaran Covid-19 menjadi lebih luas.

“Target kami sehari minimal 150 spesimen. Pemanfaatan alat uji spesimen ini dikhususkan untuk Kabupaten Sleman saja,” katanya.

Penempatan alat penguji specimen mengalami revisi. Awalnya alat ini akan diletakkan di Laboratorium Kesehatan Daerah Pemkab Sleman lalu atas pertimbangan teknis dialihkan ke RSUD Sleman.

“Alat ini membutuhkan supervisor spesialis patologi klinik. Alhasil dari awalnya di Labkesda Sleman kami sepakati di RSUD Sleman. Karena disana ada ahli patologi,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman