RADAR JOGJA – Puluhan warga padukuhan Mrican di Jalan Affandi, Caturtunggal, Depok, Sleman menggelar aksi di simpangtiga Colombo Jalan Affandi. Aksi ini merupakan buntut dari aksi Gejayan Memanggil. Para warga dan pelaku usaha merasa keberatan dengan lokasi penyampaian aspirasi tersebut.

Ketua Paguyuban Gejayan Ayem Tentrem Desi Setiawan menuturkan, aksi Gejayan Memanggil berdampak pada ekonomi warga. Selama aksi berlangsung roda perekonomian di wilayah tersebut tidak jalan. Imbas dari ditutupnya Jalan Affandi selama aksi berlangsung.

“Mulai dari pemilik toko, tukang parkir, dan warga keberatan dengan adanya aksi itu. Ekonomi tidak berjalan selama aksi berlangsung. Ditambah situasi lagi pandemi (Covid-19) seperti ini,” jelasnya ditemui di simpangtiga Colombo Jalan Affandi, Selasa (18/7).

Sejatinya penolakan terhadap aksi Gejayan Memanggil telah dilakukan. Diawali dengan pemasangan spanduk di titik utama aksi. Sayangnya, spanduk hilang menjelang aksi Gejayan Memanggil.

“Saya tidak mau menuduh siapa yang mencopot spanduk itu. Kami pasang tanggal 13 Agustus, besoknya (14/8) sudah hilang. Tidak tahu siapa yang mencopot,” kata Iwan, sapaannya.

Di satu Iwan juga tak menolak esensi dari aksi Gejayan Memanggil. Alasan utama penolakan adalah lokasi yang digunakan. Menurutnya, penyampaian aksi adalah hak seluruh warga negara. Iwan menyarankan agar para peserta aksi mengkaji lokasi aksi. Aspirasi, lanjutnya, bisa tersampaikan apabila lokasinya tepat. Dia mencontohkan gedung DPRD atau kampus masing-masing.

Pria berusia 35 tahun ini juga menilai lokasi pemilihan tak tepat. Kawasan Jalan Affandi bukanlah kawasan kantor pemerintahan. Sehingga, menurut dia, aspirasi yang disampaikan tak terfasilitasi oleh birokrat maupun penyusun kebijakan. “Boleh demo asal jangan di wilayah Gejayan. Di sini yang mau didemo itu apa karena tidak ada apa-apa. Lalu kami khawatir kalau ribut, warga setempat yang kena,” ujarnya.

Penjaga parkir Toko Merah Jalan Affandi Masyanto, 35, juga mengaku keberatan. Omzet parkir berkurang drastis selama aksi Gejayan Memanggil berlangsung. Apalagi Jalan Affandi ditutup dari sisi utara maupun selatan.

“Kerugian satu jam itu bisa Rp 50 ribu. Sudah ekonomi kayak gini ada pandemi (Covid-19) ditambah ada demo. Dampaknya ke kami juga,” katanya.

Warga Mrican Winarko, 40, mengakui belum ada dampak positif dari aksi Gejayan Memanggil. Di satu sisi warga juga tak ada yang terlibat dari aksi penyampaian aspirasi tersebut. “Kami merasa gerakan ini juga bukan dari warga. Kami tidak menolak isi demonya, monggo tapi tempatnya jangan di Gejayan,” tegasnya.

Humas Aksi Rakyat Bergerak (ARB) Lusi tidak mempermasalahkan adanya penolakan tersebut. Menurutnya, aksi kontra tersebut juga konsekuensi dari demokrasi. Terlebih lokasi yang digunakan adalah ruang publik.

Di satu sisi Lusi juga mengakui, aksi Gejayan Memanggil belum sempurna. Termasuk pemilihan lokasi sebagai penyampaian aspirasi. Hingga akhirnya muncul penolakan dari para warga sekitar simpangtiga Colombo.

“Sebenarnya kami mengakui kekurangan kampanye langsung ke masyarakat belum optimal. Ke depan akan banyak edukasi politik ke masyarakat. Komunikasi ke masyarakat lebih diintenskan,” katanya.

Lusi mengajak warga untuk memahami esensi aksi. Omnibus Law, menurutnya, merugikan semua pihak. Terutama para buruh yang masih bekerja. Munculnya aksi Gejayan Memanggil sendiri adalah ajakan untuk menolak.

Aksi serupa akan terus muncul. Target utama adalah digagalkannya omnibus law. Terkait lokasi masih dalam pembahasan. Keputusan berdasarkan kesepakatan bersama. Terutama dari mahasiswa, aliansi buruh dan lembaga swadaya masyarakat.

“Menimbang urgensi bahwa isu yang kamu bawa juga penting tentang penolakan omnibus law. Pemerintah tidak menampung aspirasi dari masyarakat sehingga aksi serupa akan terus muncul,” ujarnya. (dwi/ila)

Sleman