RADAR JOGJA – Gumregah, semangat inilah yang diusung oleh warga Dusun Grogol Desa Margodadi, Seyegan, Sleman. Dampak Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid – 19) juga melahirkan sebuah ide kreatif. Berawal dari rasa jenuh, mereka sepakat menghidupkan kembali budaya bermain layang-layang.

Permainan layang-layang sejatinya bukan hal baru di desa wisata ini. Hanya saja sebelum pandemi Covid-19, permainan ini kurang digemari. Kini tua, muda, semuanya hanyut dalam dolanan masa kecil ini.

“Sudah dua bulan ini. Awalnya main dan bikin sendiri tapi ternyata anak-anak, pemuda dan warga senang. Lalu akhirnya saya jual dengan bentuk macam-macam,” jelas pengelola Desa Wisata Grogol Bugiman ditemui di pematang sawah Dusun Grogol, Minggu sore (16/8).

Bugi, sapaannya, tak menampik adanya faktor ekonomi yang turut menjadi alasan. Selama pandemi Covid-19 roda perekonomiannya tak berjalan. Ditambah lagi status dusunnya adalah Desa Wisata. Pandemi ini membuat angka kunjungan wisata ke desanya anjlok.

Baginya kondisi pandemi berdampak signifikan. Adanya layangan setidaknya mampu mengisi pundi-pundi keuangan meski tak sebanding saat sebelum pandemi datang. Walau begitu hasil penjualan layang-layang mampu memghidupi keluarga.

“Awalnya terdampak pandemi. Tapi saya saya pikir dengan pandemi tidak terhalang untuk berkarya,” katanya. 

Tak hanya ekonomi, bermain layangan ternyata untuk hiburan. Diakui olehnya beberapa warga terhibur dengan adanya permainan layang-layang. Hampir setiap sore pematang sawah ramai dikunjungi warga. Terutama saat akhir pekan, Sabtu dan Minggu.

“Menghibur juga, itu yang utama karena penat sekali. Kampung Grogol ada posko hampir 3 bulan tutup untuk gerbangnya, tidak bisa kemana mana. Akhirnya jadi hiburan juga. Saat anak-anak maen layangan, pasti orangtua kesini untuk nonton. Bahkan ada yang ikut maen layangan,” ujarnya.

Radar Jogja menyempatkan diri bergabung dengan kelompok penerbang layang-layang. Awalnya para pria dewasa yang menerbangkan layang-layang. Setelah berada di atas, kemudi layang-layang diserahkan kepada anak-anak.

Layang-layang produksi dusun Grogol ini berbeda dengan layangan pada umumnya, meggunakan rangka bambu tebal. Untuk layang-layang ukuran besar menggunakan layar kain dan plastik. Sementara untuk layangan kecil berbahan kertas. Talinya memanfaatkan tali kenur jemuran, bukan senar.

Kreativitas para pemuda Dusun Grogol terbukti dengan beragam bentuk layangan yang unik. Mulai dari tengkorak, kuntilanak, tokoh film kartun, burung hingga kepada naga. 

“Yang main usianya macam-macam, ada yang anak-anak, kuliah bahkan bapak-bapak. Kalau ide bentuk semua dari kita sendiri, agar anak-anak tidak bosan. Tapi ada yang bentuk klasik seperti bapangan,” kata Bugi.

Pembuatan layang-layang pun menerapkan uji coba untuk menjamin semua layanh-layang bisa dikendalikan. Ini karena bentuk dari layang-layang sangatlah beragam. Sehingga belum tentu semua bentuk bisa terbang.

Lokasi penerbangan layang-layang di pematang sawah karena angin di sana dianggap ideal bagi layangan. Selain itu juga aman bagi semua warga. Apabila putus, tidak jatuh di kawasan pemukiman warga.

“Uji coba dulu, kalau bagus baru dibikin banyak. Kalau waktu terbang biasanya sore saat anginnya pas. Kalau terlalu kencang juga tidak bagus karena terbangnya jadi tidak stabil,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman