RADAR JOGJA – BMKG memprediksi puncak musim kemarau di DIJ terjadi pada pertengahan Agustus ini. Mengantisipasi hal tersebut, Pemkab Sleman tengah mengupayakan pengaliran air ke desa yang sering mengalami kekeringan.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan menjelaskan, saat ini pihak lainnya tengah berupaya mengalirkan air dari sumber air Pendekan yang berada di Kecamatan Berbah. Selain mengalirkan mata air dari bawah ke wilayah atas, pihaknya juga telah menyiapkan ratusan tangki sebagai antisipasi kekeringan di Prambanan.

Tahun lalu setidaknya ada tiga desa di Kecamatan Prambanan yang menjadi langganan bantuan air saat puncak kemarau. Yakni Gayamharjo, Wukirharjo dan Sumberharjo. Padahal jika dilihat dari ketersediaan air di wilayah desa tersebut, air cukup melimpah. “Namun pengelolaan distribusi air menjadi kendala,” jelas Makwan Kamis (12/8).

Adanya aliran ini, masyarakat bisa menggunakan secara cuma-cuma selama tiga bulan pertama. Sedangkan untuk selanjutnya, masyarakat akan ditarik biaya bulanan untuk dana operaisonal dan perawatan. “Persiapan sarana dan praarana sumber air sudah dilakukan sejak awal Januari,” ungkap Makwan.
Antisipasi lainnya, pihaknya juga telah menyediakan 350 tangki air untuk dropping. Hal ini dilakukan jika sewaktu-waktu ada wilayah dalam keadaan darurat dan membutuhkan air. “Semoga tahun ini tidak ada lagi wilayah yang memerlukan dropping,” harap Makwan.

Sementara itu, Ketua Unit Pelaksana Forum Pengurangan Resiko Bencana Sumberharjo Prambanan, Sri Widodo membenarkan jika saat wilayahnya masih aman dan terkendali dari ancaman kekeringan. Terlebih, sudah ada penyaluran air dari sumber air di Sumberharjo ke wilayah atas. “Karena di atas tidak bisa untuk sumur,” kata Widodo.

Meskipun belum ada tanda-tansa kekeringan, Widdo masih khawatir kekeringan akan terjadi pada September hingga Oktober. Hanya saja, Widodo berharap kekeringan tahun ini tidak sepanjang tahun lalu yang bisa sampai delapan bulan lamanya. “Saat ini, tim relawan juga belum ada kegiatan terhadap ancaman kekeringan,” ungkapnya.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Klimatologi (BMKG Staklim) Jogja Etik Setyaningrum menjelaskan, musim hujan di Sleman diprakirakan terjadi sekitar pertengahan Oktober. Sedangkan disingung terkait hujan yang mengguyur sebagian besar wilayah Sleman pada Selasa (12/8), hanya bersifat sementara. “Gangguan sementara sehingga diprediksi paling lama dua hari,” kata Etik. (eno/pra)

Sleman