RADAR JOGJA – Masa adaptasi kebiasaan baru belum banyak berpengaruh ke perhotelan di Kabupaten Sleman. Meski mulai mengalami kenaikan tren okupansi, tingkat okupansi hotel di Sleman masih 15 persen.
“Sudah ada kemajuan tetapi tetap terapkan standar operasional prosedur masa Covid-19,” jelas Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sleman, Joko Paromo Minggu (9/8).

Okupansi 15 persen yang telah didapatkan diharapkan naik bulan ini. Karena adanya hari tanggal merah di Agustus diharapkan mampu meningkatkan okupansi hotel. Diprediksi, kenaikan akan mencapai 18 sampai 20 persen.
Sedangkan untuk acara Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), tambah Joko, saat ini belum menunjukkan peningkatan. Namun untuk acara pernikahan, saat ini sudah bisa digelar dengan menerapkan protokol kesehatan.

Joko menambahkan, sebelumnya pada Maret, setidaknya 85 hotel yang tergabung dalam PHRI Sleman mengalami penurunan pengunjung hingga 65 persen. Untuk menekan dampak kerugianndari turunnya jumlah pengunjung, pihak hotel tetap melakukan promosi. “Kami juga lakukan kebersihan lingkungan hotel dan penyemprotan di area hotel masing-masing karena adanya pandemi Covid-19,” kata Joko.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Sleman Sudarningsih membenarkan jika tingkat hunian hotel di Sleman sudah mulai didatangi pengunjung. Meskipun belum signifikan, tingkat okupansi dari setiap hotel berbeda-beda.
Seperti halnya hotel di kawasan Jalan Affandi yang tingkat okupansinya berkisar pada angka 29,25 persen. Sedangkan hotel lainnya, ada yang memiliki tingkat okupansi mencapai 31,07 persen.

Meskipun demikian, Sudarningsih mengimbau agar pengelola hotel selalu mengutamakan dan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Terlebih bagi tamu yang datang dari luar kota, khususnya zona merah. “Harus menunjukkan surat sehat. Hal ini penting untuk melindungi karyawan dan para tamu,” ungkap Sudarningsih. (eno/pra)

Sleman