RADAR JOGJA – Pemkab Sleman bersiap menghadapi potensi perubahan status Gunung Merapi. Saat ini, penggodokan anggaran dan penyesuaian prosedur tetap (protap) terkait mitigasi masih dilakukan. Mengingat pada 22 Juni sebelumnya, Gunung Merapi mengalami perubahan bentuk pada permukaan tubuh gunung api.

Bupati Sleman Sri Purnomo menjelaskan protap mitigasi Merapi yang digodok saat ini juga menyesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19. Seperti halnya titik kumpul dan pengungsian yang tadinya jadi satu di beberapa wilayah, harus dipecah menjadi beberapa tempat untuk menghindari kerumunan.

ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA

Bukan hanya protap, tambah SP, anggaran yang sebelumnya sudah ditetapkan berkaitan dengan penanganan bencana Merapi, juga turut dilakukan penyesuaian. “Anggarandari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) belum dapat laporan berapa tambahan anggarannya. Namun itu sudah dikoordinasikan tim anggaran kabupaten sleman yang masih dirapatkan,” jelas SP Kamis  (16/7).

Sementara itu Camat Cangkringan, Suparmono menjelaskan, adanya deformasi Merapi membuat desa-desa di wilayah Kecamatan Cangkringan mulai melakukan pembersihan barak pengungsian. Setidaknya ada sekitar enam hingga tujuh barak pengungsian yang difungsikan untuk menampung warga saat aktivitas Gunung Merapi meningkat.

Suparmono menambahkan, adanya Covis-19 membuat pihaknya juka ikut melakukan penambahan titik-titik pengungsian. Hal tersebut agar warga yang menempati barak tetap menjaga jarak. “Di kecamatan dan desa memanfaatkan bangunan yang ada di desa sedang kita identifikasi. Selain barak yang sudah resmi ada, kalau di Cangkringan banyak bangunan yang sekarang tidak dipakai,” kata Suparmono.

Sementara untuk menjaga keselamatan wisawatan yang datang ke destinasi wisata yang berdekatan dengan Gunung Merapi, Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Sudarningsih mengaku pihaknya telah menyiapkan aplikasi Jarak Antara Aku dan Merapi. Berkaitan dengan aktivitas Merapi dan adanya Covid-19, jalur wisata Jeep Merapi sudah diperpendek dan diatur rutenya.

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan BPBD terkait mitigasi di wisata Merapi. Sedangkan di kawasan rawan bencana (KRB), Sudarningsih memastikan tidak ada wisata. “Paling wisata minat khusus seperti jip, tapi kalau wisata yang stay tidak ada,” ungkap Sudarningsih. (eno/bah)

Sleman