RADAR JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta mencatat adanya aktivitas guguran Gunung Merapi berupa guguran dari arah kawah sekitar pukul 18.29, Rabu (15/7). Aktivitas ini terpantau melalui Pos Babadan Magelang Jawa Tengah.

Berdasarkan data BPPTKG Jogjakarta sempat terdengar suara guguran dari arah pos Babadan. Hanya saja untuk durasi guguran dan arah guguran tidak tercatat secara jelas, karena kawasan puncak Gunung Merapi tertutup oleh kabut dan awan.

BPPTKG Jogjakarta turut mencatat adanya aktivitas kegempaan. Dimulai sejak pukul 18.00 WIB. Diantaranya satu kali gempa multiphase (MP) dan dua kali gempa guguran.

“Betul ada aktivitas itu, tapi arah tidak terlihat karena terkendala cuaca di puncak Merapi,” jelas Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaida dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu malam (15/7).

Dalam pertemuan sebelumnya, Hanik juga sempat menjelaskan aktivitas Gunung Merapi. Pos Babadan sempat mendeteksi adanya pemendekan atau deformasi. Aktivitas ini terjadi karena adanya magma yang menekan dan menuju ke permukaan.

“Faktanya, memang ada material yang mendesak ke permukaan. Tapi ini bukan berarti arahnya ke Babadan. Yang jelas bukaan kawah masih di kali Gendol sehingga potensi terjadi awan panas masih ke kali gendol,” katanya beberapa waktu lalu.

Fenomena inilah yang menyebabkan tubuh Gunung Merapi menggelembung. Berdasarkan data BPPTKG Jogjakarta pemendekan mencapai 0,5 centimeter perhari. Hingga saat ini pergerakan tersebut belum muncul ke permukaan.

Angka pertumbuhan ini masih tergolong kecil dibandingkan erupsi 2010. Dua hipotesa telah disiapkan atas fenomena ini. Pertama, kemungkinan munculnya kubah lava baru. Hipotesa kedua adalah erupsi Merapi secara eksplosif.

“Perkembangan kedepannya mau seperti apa masih belum terlihat. Ada dua kemungkinan, munculnya kubah lava baru seperti Agustus 2018 atau meletus eksplosif seperti erupsi 21 Juni 2020,” ujarnya.

Pertumbuhan material masih sangat tergolong rendah. Volume kubah lava saat erupsi 2010 mencapai 130 juta meter kubik. Untuk saat ini kubah lava Merapi masih dibawah 1 juta meter kubik. Berdasarkan data tersebut aktivitas di kawah Merapi masih sangat kecil. 

“Volume sisa (erupsi Merapi) 2018 itu 500 ribu meter kubik. Sekarang ada sekitar 200 ribu meter kubik per 13 Juni,” katanya.

Dalam kesempatan ini Hanik juga meluruskan adanya kesalahan persepsi kunjungan Juru Kunci Merapi Kliwon Suraksohargo Asihono atau Mas Asih ke Kantor BPPTKG Jogjakarta. Hanik memastikan kunjungan tersebut adalah kunjungan biasa. Sang juru kunci hanya ingin mendapatkan informasi lebih terkait aktivitas Gunung Merapi.

“Betul beliau (Mas Asih) berkunjung siang tadi (15/7). Beliau ingin mengetahui secara langsung kondisi Merapi dan sekaligus silaturohim ke BPPTKG,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman