RADAR JOGJA – Sepasang kekasih tersangka penelantaran bayi di pinggir jalan di Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Minggu (14/6) lalu, mengaku khilaf dan menyesali perbuatannya. Pernyataan tersebut disampaikan kedua tersangka, M (21) dan A (22), melalui penasihat hukumnya, Ahmad Mustaqim, SH, CPL dari Kantor Hukum AMP Jogjakarta.

Mustaqim menegaskan, kliennya tidak berniat menelantarkan buah hatinya, sebagaimana yang disangkakan. Menurut dia, kliennya dalam kondisi sedang khilaf. Karena bingung dan panik saja . “Dalam Kitab Undang–Undang Hukum Pidana itu, kalau berkaitan dengan tindak kejahatan, harus mempertimbangkan niat jahatnya atau mens rea-nya. Tapi di sini tidak ada niat jahatnya, juga tidak ada pihak yang dirugikan,” tegasnya dalam pernyataan tertulis Rabu (1/7).

Mustaqim menjelaskan, barang bukti yang ditemukan yaitu satu selimut, satu bantal, satu perlak dan dua gelang identitas bayi, serta foto copy surat lahir bayi. Jika ada niat jahat untuk membuang bayi, menurut Mustaqim, pasti kliennya akan menghilangkan identitas, “Kalau mau menelantarkan tentunya identitas gelang bayi pun pasti akan dibuang. Faktanya saat ditemukan bayi juga dalam keadaan sehat wal afiat dan di tempat yang layak,” ujarnya.

Dia menyayangkan ada pemberitaan yang tidak benar pada sebuah media online dengan mencatut nama Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Deni Irwansyah, jika kedua tersangka berniat menitipkan bayinya ke saudaranya di Bantul. Namun karena ditolak, keduanya nekat membuang bayinya. Diketahui Kasat Reskrim Polres Sleman dalam pernyataan pers resminya tidak mengatakan begitu. “Saya juga sudah bertemu langsung dengan keluarga klien di Bantul. Bayi itu belum sampai di rumah keluarga yang dituju. Di perjalanan terjadi cekcok di kendaraan. Akhirnya mereka meletakkan si mungil ini di depan rumah warga,” ujarnya.

Bukti keluarga tidak menolak adalah, saat ini bayi sudah diasuh oleh orang tua kliennya. Selain itu. Keduanya juga akan dinikahkan sejara resmi dengan persetujuan orang tua demi legalitas bayi. “Ini membuktikan tidak ada keluarga dari kedua orang tuanya, yang menolak kehadiran si bayi cantik buah hati klien saya,” tegasnya.

Mustakim mengatakan, langkah hukum yang akan dilakukan selanjutnya adalah meminta Penyidik Polres Sleman memberikan penangguhan kepada kliennya. Permohonan penangguhan penahanan juga selain karena tak ada niat jahat kliennya. Juga melihat fakta bayi yang kini dirawat neneknya dalam keadaan sehat, “Apabila bayi tidak mendapatkan asi karena ibunya berlama-lama menginap di polres sleman itu akan mengganggu kesehatan maupun psikologis si bayi tersebut,” ungkapnya.

Selain itu, ASI adalah hak bayi. Dalam Pasal 128 UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan ( ayat 1) setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu ekslusif sejak di lahirkan selama enam bulan , kecuali atas indikasi medis.

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Deni Irwansyah dalam keterangan persnya, menyebut, bayi yang diketahui baru berusia tiga hari tersebut ditemukan warga dengan memakai selimut dan bantal bayi. Gelang identitas kelahiran juga masih terpasang pada pergelangan tangan. ”Bayi itu sudah diserahkan ke pihak keluarga tersangka yang sebelumnya telah dirawat Dinsos Sleman. Kabarnya pasangan ini akan dinikahkan guna menjaga legalitas bayi tersebut,” ujarnya. (pra)

Sleman