RADAR JOGJA – Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) sisi barat Dardiri memastikan 29 komunitas siap melaksanakan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Tak hanya bagi pengunjung tapi juga oleh seluruh personel wahana wisata ini. Sanksi internal telah disiapkan apabila ada temuan pelanggaran.

Ketegasan ini diambil atas kesepakatan bersama. Dia tak ingin muncul kasus baru dari longgarnya protokol kesehatan Covid-19. Terlebih interaksi antara wisatawan dengan operator jip wisata cenderung intens dan erat.

“Paling utama adalah menerapkan protokol kesehatan kepada wisatawan maupun personelnya. Menyambut new normal ini harus memahami tentang penularan dari Covid-19. Suda tutup 3,5 bulan, rencana buka 1 Juli besok,” tegasnya, ditemui di Pintu Masuk Kawasan Wisata Kaliurang, Selasa (30/6).

AJWLM sendiri telah menyusun standar operasional prosedur (SOP). Ketentuan ini berjalan seiring dengan SOP milik pemerintah. Kaitannya adalah kesiapan diri sebelum membuka layanan bagi wisatawan. Aturan ini berlaku baku kepada 29 komunitas jip wisata.

Pengawasan internal juga berlangsung harian. Melibatkan tim pengawas yang memantau seluruh kantor milik komunitas. Berlangsung pula pengawasan di setiap rute perlintasan jip wisata di kawasan Kaliurang maupun Cangkringan.

“Masing-masing basecamp wajib ada tempat cuci tangan. Ada ruang isolasi kalau ada wisatawan yang suhu tubuhnya lebih dari 37 derajad Celcius. Maksimal diisi tiga wistawan, dua di belakang dan satu depan,” katanya.

Tercatat ada 880 kendaraan wisata yang tergabung dalam AJWLM. Belum ada kebijakan perubahan tarif. Untuk mini trip dikenai biaya Rp 350 ribu. Sementara untuk long trip atau perjalanan jauh mencapai Rp 700 ribu. Adapula paket sunrise sebesar Rp 450 ribu.

Sanksi tegas diterapkan apabila ada pelanggaran. Berupa penghentian operasional untuk sementara waktu. Selanjutnya setiap operator diminta memperbaiki penerapan protokol yang berlaku.

 “Nanti ada pengawas yang keliling di basecamp. Kalau salah, kami berhak hentikan operasional. Sanksi itu atas keputusan bersama. Sehingga kami ajak agar semua operator berkomitmen dan konsisten menjalankan aturan,” ujarnya.

Terkait fasilitas ada sedikit penyesuaian. Jajarannya tengah menyiapkan pembayaran non tunai. Selain itu juga memanfaatkan reservasi secara online. Cara ini untuk mengurangi intensitas kontak secara fisik.

Pihaknya juga akan mengubah rute perjalanan. Bahkan ada kemungkinan membuka rute baru. Terutama kawasan yang tidak berinteraksi langsung dengan pemukiman warga. Langkah ini guna mengantisipasi adanya penolakan dari beberapa warga lereng Merapi.

“Cashless masih menyusul, sementara akan pakai nampan agar tak kontak langsung. Rute juga berubah menyesuaikan agar tak ada konflik dengan warga. Kami paham, disamping itu beberapa daerah juga masih ditutup,” katanya. (dwi/tif)

Sleman