RADAR JOGJA – Kasi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Balai TNGM Wiryawan menilai kondisi pandemi Covid-19 justru momen tepat mengembalikan habitat alami kera ekor panjang. Mamalia tersebut dapat hidup secara normal sesuai kodratnya, yakni mencari makan di hutan.

Menurutnya, tradisi memberi pakan kepada satwa tersebut salah. Terlebih kera ekor panjang adalah penghuni wilayah konservasi lereng Gunung Merapi. Artinya habitat alami harus senantiasa dijaga. Termasuk dalam mencari makan.

“Sebenarnya tidak boleh kasih pakan di wilayah konservasi karena akan memberikan perubahan perilaku kepada satwa. Mungkin pengunjung merasa kasihan, tapi ini tidak bagus untuk satwa liar. Karena akan ketergantungan,” jelasnya, Senin (22/6).

Wiryawan mengakui kera ekor panjang memgalami perubahan perilaku. Satwa tersebut mudah menyesuaikan diri. Jadi persinggungan dengan manusia seakan normal. Termasuk menerima pakan dari warga maupun pengunjung.

Secara tidak langsung perilaku ini justru merusak habitat alami. Satwa yang awalnya hanya makan pucuk daun dan buah-buahan beralih ke bahan pakan milik manusia. Ada pula yang memilih menunggu daripada berburu di hutan.

“Karena dikasih pakan makanan manusia dan lebih enak akhirnya memilih itu. Tapi saat tak ada pilihan itu, mereka pasti kembali ke hutan,” katanya.

Dia memastikan kondisi habitat asli kera ekor panjang masih terjaga. Jumlah pakan alami di hutan masih sangat tersedia. Dikuatkan oleh hasil identifikasi tim TNGM. Bahkan jumlah pakan tersebut mampu memenuhi tiga kelompok besar ekor panjang di kawasan Kaliurang.

Terkait turunnya kera ekor panjang di kawasan Tlogo Putri masih sangat wajar. Terlebih kawasan ini memang masuk dalam habitat alami kera ekor panjang. Hingga saat ini laporan persinggungan dengan pemukiman warga juga masih sangat minim.

“Pakan alami di hutan masih sangat melimpah. Cuma karena sering dikasih pakan mereka lebih memilih turun. Kaliurang itu masih habitat alaminya, jadi wajar kalau cari makan di wilayah itu,” ujarnya.

Walau begitu perubahan perilaku kera ekor panjang penghuni Kaliurang tidak terlalu ekstrem. Mamalia ini masih takut dengan keberadaan manusia. Terbukti saat didekati akan langsung menjauh. (dwi/ila)

Sleman