RADAR JOGJA – Penutupan tempat wisata di wilayah Kaliurang karena pandemi Covid-19 berdampak kepada hewan-hewan sekitar, khususnya monyet. Tidak adanya pengunjung yang memberikan makan, membuat kera turun ke pemukiman masyarakat. Keadaan tersebut, membuat para relawan dan pecinta satwa berinisiatif memberikan makanan berupa buah setiap minggunya.

Salah satu relawan Tri Tukijo menjelaskan,  pemberian makanan kepada satwa telah dilakukan dua kali setiap hari Minggu. Sebelumnya, kegiatan tersebut diinisiasi karena banyaknya buah pisang yang matang dan tidak tersalurkan oleh masyarakat. Di waktu bersamaan, ada laporan dari warga sekitar objek wisata Tlogo Putri bahwa adanya monyet yang turun sampai ke pemukiman warga. “Dari situ kami ingat bahwa monyet di wilayah wisata Kaliurang mengandalkan makanan dari pengunjung, dan karena tutup monyet bisa sampai turun ke bawah,” jelas Tri Minggu (21/6).

Monyet ekor panjang memakan buah yang diberikan oleh sejumlah relawan di kawasan obyek wisata Tlogo Putri, Kaliurang, Sleman, DIJ, (21/6). Kegiatan tersebut dilakukan untuk membantu kawanan monyet agar tidak kelaparan selama masa penutupan kawasan wisata Tlogo Putri, Kaliurang dan Taman Nasional Gunung Merapi akibat pandemi Covid-19. foto : ( GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA )

Terbukti, di Minggu pertama pemberian makanan buah pisang, Tri beserta relawan lainnya mengaku kewalahan karena banyaknya monyet yang turun. Sedangkan persediaan makanan buah yang dibawa tidaklah banyak. Hanya menggunakan sepeda motor untuk mengangkut satu karung buah. Berbeda dengan Minggu kedua (21/6), Tri beserta relawan lain menggunakan pickup untuk mengangkut persediaan buah. Mulai dari semangka, pepaya dan pisang. “Hanya saja tidak banyak monyet yang turun, mungkin disebabkan karena adanya erupsi,” tambahnya.

Kegiatan seperti ini, tambah Tri, hanya akan dilakukan selama masa pandemi Covid-19. Meskipun nantinya objek wisata kembali dibuka, pihaknya hanya akan mengurangi intensitas kegiatan. Hal ini karena dikhawatirkan, koloni monyet akan terus bergantung kepada warga yang memberikan makanan.

Sementara itu, relawan dari center for orangutan protection (COP) Daniek Hendarto menuturkan, ke depan, pemberian buah akan dilakukan 2-3 kali seminggu. Mengingat masyarakat setempat dan relawan lain sudah mengagendakan di hari Minggu, pembagian akan dilakukan di hari lainnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya preventif agar tidak adanya konflik antara satwa dan warga. Meskipun pemberian makanan kepada satwa liar tidak dibenarkan sepenuhnya karena tidak akan mendidik satwa. Serta menjadikan satwa akan bergantung kepada manusia. “Jadi pemberian makan di wilayah terlokalisir agar monyet tidak turun jauh ke pemukiman warga,” tutur Daniek. (eno/bah)

Sleman