RADAR JOGJA – Sebanyak 81 tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas Mlati II, Sleman menjalani tes cepat Covid-19 menggunakan rapid diagnosis test (RDT) bernama Republik Indonesia Gadjah Mada Hepatika Airlangga (RI GHA). Alat tersebut hasil kolaborasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga, dan Laboratorium Hepatika Mataram serta didukung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan Kementerian Riset dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo menjelaskan, setidaknya 1.500 nakes di puskesmas seluruh Sleman akan dites menggunakan RDT RI-GHA ini. Tes serentak akan dilakukan 22-23 Juni mendatang. Screening yang dilakukan merupakan kerja sama Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK KMK) UGM dengan Dinas Kesehatan dan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Selain menggunakan RDT, para nakes ini kemudian diuji swab untuk mendapatkan hasil pasti. Tidak hanya itu, warga di 76 dusun di Kabupaten Sleman juga akan dites dengan cara pengambilan sampel. “Kepada masyarakat, rencananya satu Kecamatan Mlati akan dijangkau. Setiap padukuhan diambil 30 orang,” jelas Joko Kamis (18/6).

RI-GHA Covid-19 merupakan sebuah alat deteksi dini berbasis antibodi. Dengan keunggulan hasil keluar lebih cepat dan dapat dibaca dalam 15 menit. Selain itu, RDT yang mudah digunakan dengan biaya produksi terjangkau. Jika dibandingkan dengan harga RDT kit di pasaran, RI-GHA akan jauh lebih murah jika sudah diproduksi masal. Biasanya harga RDT kit di pasaran seharga Rp 130 ribu, untuk RI-GHA tidak lebih dari Rp 50 ribu. “Kalau sudah bisa diyakini secara ilmiah, efektivitas maupun esensivitas nanti kami akan dikembangkan lagi. Rencana untuk kebutuhan tes yang belakangan makin meningkat,” tambahnya.

Guru Besar FK-KMK UGM Sofia Mubarika Haryana yang juga sebagai ketua tim peneliti menjelaskan RDT RI-GHA berbasis antibodi untuk mendeteksi IgM dan IgG yang diproduksi tubuh untuk melawan Covid-19. Tidak memerlukan alat tambahan untuk menggunakannya, RI-GHA hanya perlu diteteskan darah sebanyak lima sampai delapan mikroliter yang kemudian diteteskan buffer.

Dari pemeriksaan yang telah dilakukan, hasil paling cepat keluar di waktu 1,8 menit. Hanya saja, hal tersebut seshai dengan kadar antibode yang ada. “Oleh karena itu, kami pastikan hasil keluar dalam waktu 10-15 menit,” ungkap Rika.

Meskipun sama dengan RDT kit yang memiliki tes dual, hanya saja akurasi RDT kit di pasaran hanya mencapai 30 sampai 60 persen. Untuk mengetahui keakurasian dari RI-GHA, uji lapangan untuk validasi akan dilakukan di empat kota. Yakni Jogja, Surabaya, Solo, dan Semarang. Pengujian akurasi yang dilakukan sejak awal Juni, diperkirkaran hasil akan bisa didapatkan akhir Juni atau pertengahan Juli.

Rika berharap, jika RI-GHA bisa diproduksi masal, cakupan screening Covid-19 akan lebih luas. Sehingga bisa dilihat berapa jumlah kasus popolulasi yang terinfeksi di Indonesia. Serta dengan alat tersebut, bisa dilihat persebaran infeksi yang terjadi. Meskipun masih perlu menggunakan tes swab untuk melihat genetik material virus. “Kalau tes kami mendeteksi adanya antibodi. Artinya, antibodi positif dia telah terpapar Covid-19 atau mungkin kalau dia sudah terpapar virus serupa. Oleh karena itu, masih perlunya konfirmasi swab untuk mendapatkan kepastian bahwa yang menginfeksi covid atau virus korona yang lain,” tambah Rika. (eno/din)

Sleman