RADAR JOGJA – Calon mahasiswa yang akan mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Kabupaten Sleman diwajibkan untuk membawa surat keterangan sehat dari dokter yang memiliki surat izin praktik (SIP). Pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah melakukan koordinasi dengan perguruan tinggi negeri (PTN) yang menjadi penyelenggara UTBK.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo menjelaskan pihak PTN penyelenggara sudah mulai menyiapkan beberapa prosedur pencegahan Covid-19 bagi calon mahasiswa yang akan mengikuti UTBK. Ada empat PTN di Kabupaten Sleman yang akan menyelenggarakan UTBK, yakni Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, dan Universitas Pembangunan Negeri Veteran Yogyakarta (UPNVY). Dari empat perguruan tinggi tersebut, tiga di antaranya sudah bersurat ke Dinkes Sleman berkaitan dengan kisaran jumlah peserta yang mengikuti UTBK.

Joko menambahkan, seperti halnya UTBK di UGM yang akan diikuti 40 ribu peserta, 35 ribu peserta di UNY, dan UIN Sunan Kalijaga dengan 15 ribu peserta. “Dari tiga PTN sudah mengirimkan surat kepada Pemkab Sleman bahwa nanti awal Juli akan ada penyelenggaraan UTBK. Mereka meminta ada saran atau bagaimana caranya bisa menyelenggarakan acara itu,” jelas Joko Senin (15/6).

Meskipun protokol dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Pemkab Sleman sudah dirasa ketat, ada beberapa syarat tambahan yang dibebankan kepada peserta UTBK yang akan mengikuti tes di Kabupaten Sleman. Yakni surat keterangan sehat dari dokter yang sudah ber-SIP. Hal ini karena peserta tidak disyaratkan untuk membawa keterangan bebas Covid-19 melalui rapid test.

Joko menambahkan, pihaknya telah meminta penyelenggara untuk menyiapkan fasilitas kesehatan bagi para peserta UTBK. Nantinya, ketika ada peserta yang bergejala maupun tidak dalam keadaan sehat, bisa langsung dirujuk untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Bupati Sleman Sri Purnomo menjelaskan, bagi peserta dari luar daerah yang naik angkutan umum, sebelum masuk Sleman sudah pasti harus menjalani rapid test terlebih dahulu. Sehingga, jika naik kendaraan umum dan ketika UTBK sama-sama diharuskan rapid test, peserta akan dua kali menjalani tes cepat.

Tidak disyaratkannya melampirkan rapid test adalah biaya yang tergolong mahal. Serta hasil rapid test yang hanya akan berlaku selama tiga hari. “Misalkan mereka datang dari Surabaya naik kereta atau pesawar pasti sudah kena rapid test. Sekali test Rp 200 ribu, kalau dua kali saat UTBK juga menjadi Rp 400 ribu. Saya membayangkan malah menyulitkan semuanya,” tutur SP.

Wakil Ketua II Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Sutrisna Wibawa menjelaskan masih adanya potensi paparan Covid-19, pihaknya mengimbau sebisa mungkin peserta melakukan tes di daerah masing-masing. Meskipun nantinya tes bisa diambil di wilayah lain tanpa adanya surat bebas Covid-19 bagi peserta, dimungkinkan penunuran jumlah peserta UTBK akan terjadi.

Nantinya peserta yang akan mengikuti UTBK, diminta untuk menaati semua protokol pencegahan Covid-19. Protokol tersebut di antaranya menggunakan masker, cuci tangan dan cek suhu tubuh sebelum masuk ruangan, serta menjaga jarak antarpeserta.

PTN dimohon berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 di daerah masing-masing untuk penyesuaian pelaksanaan protokol kesehatan, sesuai kondisi masing-masing daerah. “Di laman pendaftaran ada pernyataan, kalau peserta suhu badan melebihi 38°C, peserta bersedia untuk tidak mengikuti tes UTBK,” jelas Sutrisna. (eno/din)

Sleman