RADAR JOGJA – Gerakan penjahit rumahan yang dinamai Majelis Mau Jahitan (Mamajahit) berhasil mendistribusikan lebih dari 19 ribu alat pelindung diri (APD) ke berbagai rumah sakit di seluruh Indonesia. Ide tersebut bermula dari langkah Budhi Hermanto yang mulai menggerakkan penjahit rumahan di DIJ beberapa bulan lalu.

Budhi yang saat ini menjabat sebagai Direktur Klinik Adiwarga Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIJ menjelaskan, gerakan tersebuta bermula dari hanya tiga penjahit rumahan yang terlibat. Saat ini, sudah ada 73 penjahit rumahan yang tergabung dari seluruh Indonesia.

Paling banyak, tambah Budi, penjahit rumahan masih didominasi di wilayah Jogja. Turut bergabung pula penjahit dari Semarang, Jakarta, Malang, Kudus dan Klaten. Ide awal pembuatan APD, dikarenakan keprihatinannya terhadap minimnya ketersediaan APD di sejumlah pelayanan kesehatan. Selanjutnya, Budhi menggerakkan banyak penjahit rumahan untuk ikut berpartisipasi. ”Dengan setiap kelompok dan kota memiliki koordinator,” jelas Budhi Selasa (19/5).

Disebutkan, sampai Jumat (15/5) sudah ada 19.376 coverall baju hazmat yang telah dibuat. Sebanyak 19.363 di antaranya telah didistribusikan ke berbagai rumah sakit maupun klinik di berbagai daerah di Indonesia. Selain coverall baju hazmat, Mamajahit juga telah memproduksi 4460 faceshield, 200 safety goggles, 86 medical gowns. “Total barang terdistribusi 19.363 coverall, 3729 face shield, 146 safety goggles, 40 medical gowns,” tambahnya.

Dalam menjalani misi kemanusiaan, Budhi mengaku jalannya tidak selalu mulus. Menurutnya, ada sedikit kesulitan ketika ingin mendistribusikan APD ke luar Jawa. Tidak hanya itu, biaya untuk pengiriman APD ke luar Jawa juga tergolong mahal. Meski demikian, Budhi bersyukur karena gerakan yang berangkat dari spontanitas tersebut, saat ini sudah mampu menggerakkan berbagai penjahit serta donatur dari berbagai wilayah di Indonesia. “Syukurlah banyak yang ikut bergerak untuk kemanusiaan, berjuang melawan covid,” kata Budhi. (eno/bah)

Sleman