RADAR JOGJA – Gugus Tugas Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Pemkab Sleman tengah mengatur strategi rapid diagnose test (RDT) massal. Tak hanya terkait ketersediaan RDT kit tapi juga sumber daya manusia (SDM) pengujinya. Hal ini diketahui masih menjadi kendala di Kabupaten Sleman.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo mengakui ketersediaan SDM sangatlah minim. Terlebih saat ini seluruh tenaga medis sudah fokus kepada instansi kesehatan masing-masing. Sehingga pelaksanaan anjuran dari Pemprov DIJ tidak bisa disegerakan.

“Masih kami atur strategi terutama SDM-nya. Lima hari ini libur (lebaran) bisa istirahatkan baru atur lagi. Ada rencana menggandeng UGM dalam menyasar kasus positif,” jelasnya, ditemui di GOR Pangukan Tridadi Sleman, Selasa (19/5).

Pemprov DIJ sendiri meminta Gugus Tugas Covid-19 kabupaten kota melaksanakan RDT massal. Bukan lagi sebagai tracing tapi upaya screening. Diharapkan mampu menjaring warga yang memiliki gejala Covid-19.
Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini memastikan tak hanya pusat kerumunan. Upaya RDT massal ini juga menyasar kasus positif. Sesuai dengan skema keterlibatan UGM Jogjakarta.

“Melihat tren kasus, seminggu terakhir ini didominasi klaster Indogrosir. Lalu ada klaster besar lain dan kasus murni. Kalau nanti akan gerak lagi, konsekuensinya akan naik lagi (kasus Covid-19). Tapi ini justru membuka peta persebarannya,” katanya.

Gugus Tugas Covid-19 Sleman belajar dari akar permasalahan Klaster Indogrosir. Berawal dari kasus 79 hingga akhirnya muncul 39 kasus lainnya. Pasien yang tidak terbuka membuat informasi tersendat. Imbasnya adalah upaya tracing yang tidak optimal.

Persebaran klater Indogrosir telah mencapai generasi 3. Ini karena telah terjadi penularan dari karyawan kepada keluarga maupun kerabat. Detailnya 34 karyawan sebagai generasi 2. Adapula lima keluarga sebagai generasi 3.

“Kasus 79 sampai saat ini tidak diketahui dari mana asalnya. Pihak manajemen punya keyakinan dapat dari pengunjung. Sehingga dari sisi policy tidak jelas sumbernya sehingga muncul rapid tes untuk karyawan dan pengunjung,” ujarnya.

Walau begitu tetap ada hasil investigasi atas klaster Indogrosir. Salah satu acuan adalah tingkat pasien positif mencapai 50 persen. Perbandingannya adalah hasil RDT reaktif yang mencapai 60 karyawan.

“Angka ini tergolong tinggi, bukti bahwa kontaknya erat sekali. Ada kemungkinan saat jam makan berkumpul dan tidak pakai masker. Kemungkinan (penularan) terjadi saat itu,” katanya. (dwi/tif)

Sleman