RADAR JOGJA – Tujuh pemuda warga Dusun Rejodani, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, harus menjalani isolasi mandiri di sebuah lahan kosong jauh dari permukiman dusun tersebut. Sebab, mereka baru pulang dari Medan, Sumatera Utara, karena telah selesai urusan pekerjaan. Ini merupakan upaya dari perangkat dusun guna mencegah penularan Covid-19 di wilayahnya.

Salah seorang pemuda yang menjalani isolasi mandiri, Duri  mengungkapkan, ia dan enam rekannya (Faisal, Yadi, Soni, Handoko, Sacramento dan Adioso) sebelumnya  ke Medan, 28 April 2020. Karena ada urusan pekerjaan topografi Sungai Deli dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Medan.

Setelah tujuh hari menyelesaikan pekerjaan, ketujuh pemuda ini kemudian memutuskan pulang ke kampung halamanya di Dusun Rejodani. Namun mereka sempat tertahan di Medan, karena adanya pembatasan angkutan penumpang di tengah pandemi Covid-19. Mereka baru kembali bisa ke Jogjakarta hari Sabtu (9/5) lalu.

Duri menyatakan, bukan perkara mudah untuk bisa sampai ke Jogjakarta di tengah masa pagebluk korona saat ini. Sebab, mereka harus menyertakan hasil rapid test agar mereka bisa menggunakan angkutan penerbangan.

“Kami tes sudah dua kali dan alhamdulillah dinyatakan negatif, sehingga kami diizinkan pulang. Setelah sampai di Jogjakarta, kemudian kami langsung diminta isolasi mandiri,” ujarnya saat ditemui wartawan di tempat isolasi mandiri Rabu(13/5).

Terkait permintaan isolasi itu, Duri dan keenam rekannya mengaku tidak keberatan. Menurutnya, ini konsekuensi karena sudah berpergian ke luar daerah selama pandemi untuk urusan pekerjaan. Dia pun merasa beruntung masih diterima oleh warga untuk bisa kembali ke desanya.

Selama diisolasi, dia mengaku cukup dilayani oleh warga setempat. Ketujuh orang yang dikarantina juga selalu diperhatikan kebutuhan makannya. Fasilitas di rumah karantina pun cukup memadai. Ada fasilitas kamar mandi, tempat cuci dan kakus, meski bangunannya semi permanen.

“Di sini juga tersedia kompor, galon, kasur, sajadah dan diberikan vitamin serta buah-buahan. Jadi kami yang cukup senang juga masih terlayani dan warga masih bisa menerima kepulangan kami,”  ungkapnya.

Dukuh Rejodani Hendriyan Wiprantoko mengungkapkan, bangunan untuk isolasi mandiri itu memang khusus disiapkan oleh warga untuk karantina. Sebab, ini merupakan kesiapsiagaan masyarakat terkait pencegahan Covid-19. Protokol kesehatan bagi warga pendatang juga sudah menjadi kesepakatan seluruh masyarakat.

Diceritakan Hendriyan, untuk pembangunan rumah isolasi itu warga menghabiskan waktu satu minggu. Warga pun banyak yang berdonasi untuk mencukupi kebutuhan logistik para penghuni selama isolasi.

“Pondokan ini memang kami siapkan untuk teman-teman yang baru pulang dari Medan yang wajib menjalankan protokol kesehatan berupa isolasi mandiri,”  tambah Hendriyan. (inu/laz)

Sleman