RADAR JOGJA – Angka reaktif rapid diagnose test terhadap klaster Indogrosir Mlati terus meningkat. Memasuki hari kedua ada 23 warga yang dinyatakan reaktif. Detailnya adalah 19 RDT merupakan hasil uji kabupaten Sleman. Sementara empat hasil uji RDT Kota Jogja. Sehingga total hingga hari kedua reaktif RDT massal mencapai 45 warga.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo menuturkan, hasil RDT massal masih bisa bertambah. Selain menunggu hasil hari terakhir juga adanya tambahan peserta. Diketahui bahwa ada warga yang tidak hadir bahkan tidak terdaftar RDT massal di GOR Pangukan Tridadi Sleman.
“Kalau hari ini yang ikut ada 427 warga dari kuota 500 yang kami sediakan. Dari hasil tersebut muncul 19 reaktif. Kalau sama yang kemarin ya jadinya 39 untuk Sleman,” jelasnya, Rabu (13/5).

Pemkab Sleman sendiri memberi kelonggaran bagi warga yang tidak datang sesuai jadwal. Dapat mengikuti RDT massal pada hari ketiga atau besok (14/5). Syaratnya tetap membawa bukti pendaftaran, struk Indogrosir dan KTP Sleman.

Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini juga meminta warga yang tidak terdaftar untuk datang. Khususnya yang terlambat mengikuti pendaftaran online. Hanya saja tetap membawa syarat yang telah ditentukan.
“Sudah kami evaluasi untuk yang tidak terdaftar tapi syaratnya lengkap. Monggo silahkan datang besok (14/5) dan ikut rapid tes pada jam sesi terakhir,” katanya.

Pasca mengikuti RDT, Joko meminta warga mematuhi protokol setelahnya. Berupa tindakan isolasi diri baik kepada reaktif maupun non reaktif RDT. Bedanya, apabila reaktif, warga akan diisolasi di Asrama Haji Mlati Sleman.

Saat ini tempat tersebut memang dialih fungsikan sebagau isolasi reaktif RDT. Khususnya kepada warga yang mengikuti RDT massal klaster Indogrosir Mlati. Terkait kapasitas, untuk sementara masih mencukupi.
“Ini pilihan terbaik di antara yang kurang baik. Sebelum klaster Indogrosir ini, kami masih bersikukuh mengharuskan rapid test reaktif dirawat di rumah sakit meski fisik sehat. Jadilah Asrama Haji sebagai faskes darurat untuk karantina,” tegasnya.

Pemkab Sleman, lanjutnya, memiliki skenario mendasar. Dipilihnya isolasi terpusat agar mampu mengisolasi warga. Gunanya untuk meredam potensi apabila hasil reaktif berujung pada positif Covid-19. Hipotesis ini terbukti dengan munculnya klaster Indogrosir Mlati.

“Di asrama haji protokolnya sangat ketat. Mirip isolasi non kritikal di rumah sakit. Saat ini ada dokter yang ditempatkan di sana sebagai koordinator pelayanan selain penambahan tenaga perawat,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi menuturkan tidak semua warga pendaftar mengikuti uji RDT. Dari total 343 pendaftar hanya 232 yang mengikuti uji RDT. Dari jumlah tersebut muncul angka 6 reaktif. Detailnya dua kasus kemarin (13/5) dan 4 reaktif hari ini.
Pasca keluarnya hasil, tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Jogja telah menghubungi warga terkait. Selanjutnya diminta untuk isolasi secara mandiri. Untuk selanjutnya mengikuti tahapan uji swab pada hari yang ditentukan.

“Tindak lanjutnya, semua melakukan isolasi. Satu ada di shelter, tiga isolasi mandiri. Sementara dua yang kemarin, sudah uji swab hari ini. Hasilnya menunggu sekitar lima hari,” katanya. (dwi/ila)

Sleman