RADAR JOGJA – Pemerintah Kabupaten Sleman menaruh perhatian lebih atas kasus Indogrosir Mlati. Tak hanya kepada karyawan tapi juga pengunjung pusat perbelanjaan tersebut. Upaya terdekat adalah menggelar rapid diagnose test (RDT) massal dari tanggal 12 hingga 14 Mei. Bertempat di GOR Pangukan Sleman.

Bupati Sleman Sri Purnomo menuturkan, RDT massal ini berlaku bagi pengunjung Indogrosir dalam kurun waktu 14 hari terakhir pasca munculnya kasus 79 Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Sekitar pertengahan April hingga awal Mei.

“Akan kami tuntaskan besok tanggal 12, 13 dan 14 Mei, rapid tes massal di GOR Pangukan. Total kami sediakan 1.500 RDT. Masing-masing sehari kami upayakan 500 orang yang dites,” jelasnya ditemui di Pendopo Parasamya Pemkab Sleman, Jumat (8/5).

Terkait mekanisme pendaftaran berlangsung Minggu (10/5). Tepatnya setelah aplikasi yang dibuat oleh Kominfo Sleman beroperasi. Nantinya seluruh warga yang mendaftar akan diseleksi melalui aplikasi ini.

SP, sapaannya, menjanjikan informasi tentang pendaftaran diawali besok (9/5). Mulai dari syarat mengikuti hingga pelaksanaan RDT massal. Dia mengakui tidak semua warga bisa terlayani. Itulah mengapa pihaknya selektif dalam memilih peserta RDT massal.

“Pendaftaran dibuka 10 Mei mulai jam 6 pagi sampai kuota terpenuhi. Tentang mekanisme masih dibahas Kominfo dan Dinkes. Besok ini (9/5) akan diumumkan informasi jelasnya,” katanya.

Terkait karyawan Indogrosir, pihaknya telah berkoordinasi dengan manajemen terkait. Dia meminta agar pihak manajemen serius menangani permasalahan ini. Termasuk meliburkan sementara waktu karyawan yang terbukti reaktif atas RDT.

“Karyawan negatif (RDT) juga masih harus isolasi 14 hari dulu. Jangan diperkerjakan dulu. Jangan sampai jadi kekhawatiran di masyarakat. Tapi manajemen juga harus memenuhi logistik mereka, agar kehidupan tidak terganggu. Mereka (manajemen) sanggupi itu,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo menuturkan hasil swab 57 karyawan Indogrosir belum keluar. Karena para karyawan tidak langsung menjalani uji swab pasca terbitnya RDT. Contohnya, untuk RDT hari Sabtu (2/5) baru menjalani uji swab Selasa (5/5). Sementara untuk RDT kedua baru jalani uji swab hari ini.

Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini menjelaskan, uji swab harus berlangsung dua kali. Setidaknya bagi karyawan yang awalnya dinyatakan negatif. Langkah ini untuk memastikan bahwa hasil uji swab murni negatif Covid-19.

“Kalau negatif (Covid-19) harus dua kali periksa untuk mendapatkan hasil pasti. Untuk saat ini masih 57 yang ikut uji swab. Semoga tidak ada susulan, karena hari ini ada rapid tes susulan untuk karyawan yang tercecer,” katanya.

Joko mengakui RDT kepada 300 karyawan Indogrosir ternyata belum tuntas. Terbukti masih ada 44 karyawan yang belum menjalani protap medis ini. Seluruhnya menjalani RDT di Puskesmas Mlati I hari ini (8/5).
Tercecernya karyawan berawal dari perbedaan persepsi. RDT massal dianggap menyasar karyawan resmi Indogrosir Mlati. Faktanya pusat perbelanjaan ini memiliki foodcourt di sisi depan. Adapula sales yang bekerja setiap harinya di Indogrosir Mlati.

“Kami sapu bersih hari ini. Ada yang tercecer seperti sales promotion girl (SPG) lalu karyawan tenant dan foodcourt. Awalnya dianggap tidak perlu ikut, tapi aktivitas mereka kan ada interaksi sehingga harus ikut,” ujarnya.

Pihaknya juga tengah menyiapkan mekanisme RDT massal pengunjung Indogrosir Mlati. Pendaftaran sepenuhnya melalui aplikasi milik Kominfo Sleman.

Untuk RDT massal berlangsung 12 hingga 14 Mei. Per harinya akan dilayani 500 RDT yang terbagi dalam lima gelombang. Berlangsung selama tiga jam dengan melibatkan 10 tim. Sehingga setiap 30 menit mampu melaksanakan RDT kepada 100 pengunjung. Mekanisme ini untuk menerapkan physical distancing.

“Nanti yang mendaftar akan diminta nomor handphone-nya. Selanjutnya akan dikabari melalui WhatsApp untuk nomor antriannya,” katanya.

Joko tak menampik RDT berlangsung selektif. Sasaran utamanya adalah warga yang beridentitas Kabupaten Sleman. Warga luar Sleman akan dilayani apabila kuota telah terpenuhi. Baik untuk warga Jogjakarta maupun provinsi lainnya.

“Syarat pendaftaran KTP atau SIM untuk memilah dan prioritas warga Sleman dulu. Lalu pernah berkunjung April sampai Mei. Kalau ada yang tidak kebagian, kami koordinasi ke Dinkes sesuai alamat KTPnya,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman