RADAR JOGJA – Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo meluruskan kabar yang beredar tentang tindakan rapid diagnose test (RDT) kepada warga Padukuhan Gading Kulon Turi. Faktanya, tindakan medis ini hanya menyasar orang yang kontak erat dengan pasien positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) kasus 104.

Kabar tersebut menyebutkan bahwa sebanyak 43 warga padukuhan Gading Kulon menjalani RDT. Bahkan sempat beredar pula satu padukuhan ditutup sementara waktu. Joko memastikan kabar tersebut tidaklah benar.

“Untuk rapid test di Turi baru dilakukan terhadap kontak erat. Ini sesuai pedoman Kementerian Kesehatan. Kalau dari rapid test tersebut ada yang reaktif baru dilakukan pengembangan tracing,” jelasnya, Sabtu (2/5).

Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini sempat menggali informasi dari Puskesmas Turi. Hasilnya tidak ada kegiatan seperti info yang beredar. Tepatnya RDT kepada 43 warga Padukuhan Gading Kulon.

Tindakan medis ini justru dilakukan kepada kontak erat Kasus 104. Tepatnya adalah istri, saudara dan supir pasien. Total warga yang menjalani RDT adalah sebanyak enam orang.

“Enam kerabat kasus 104 ini hasilnya negatif semua. Kalau yang 43 warga itu dapat info dari salah satu anggota dewan. Setelah cek ke Puskesmas Turi ternyata belum ada daftar itu,” katanya.

Proses RDT sendiri berlangsung relatif cepat. Setelah diambil sampel darah, hasil bisa diketahui selang waktu 30 hingga 60 menit. Apabila reaktif berlanjut dengan uji swab. Sebaliknya negatif menunggu 7 hingga 10 hari untuk RDT tahap kedua.

Pasien kasus 104 adalah seorang laki-laki berusia 79 tahun asal Sleman. Saat laporan masuk belum ada keterangan kontak riwayat. Ini karena upaya tracin masih dilakukan oleh Dinkes Sleman.

“Sosok pasien 104 ini adalah generasi 1. Ada riwayat berpergian ke area terjangkit. Bukan bagian dari Klaster jamaah tabligh,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman