RADAR JOGJA – Petunjuk Teknik (juknis) mengenai Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk SMA/SMK di DIJ telah rampung dibahas dan disahkan. Ada beberapa perbedaan menonjol dari tahun sebelumnya yakni penggunaan nilai UNBK digantikan dengan nilai rapor.

Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIJ Didik Wardaya menjelaskan, tidak akan menggunakan nilai ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Seiring tak digelarnya UNBK karena pandemi Covid-19. “Kami pakai nilai rapor yang dipakai untuk PPDB dimulai dari semester I hingga semester V,” jelasnya Jumat (1/5).

Selain dari nilai rapor, ada masukan juga perlunya dimasukannya rerata nilai UN sekolah asal. Paling tidak 3/4 tahun terakhir. “Nilai ujian nasional sebelumnya. Ada sekolah yang ujian nasional stabil itu bisa kita gunakan sebagai alat koreksi terhadap rapor itu sendiri,” jelas Didik.

Hal kedua yang berbeda pada PPDB tahun ini adalah dengan mempertimbangkan akreditasi sekolah asal. Didik menyebutkan, untuk akreditasi sekolah diberi bobot 10 persen. Sisanya kombinasi antara nilai rapor 80 persen dan nilai rata-rata hasil UN sekolah empat tahun terakhir diberi bobot 10 persen. “Jadi kombinasi tiga aspek, nanti ketemu rata-rata nilai gabungan,” tambahnya.

Perbedaan lainnya yaitu pada urutan seleksi. Jika tahun lalu urutan PPDB SMA/SMK adalah zonasi, pilihan sekolah, nilai kemudian waktu mendaftar, maka di tahun ini urutan seleksi meliputi zonasi, nilai gabungan, pilihan sekolah dan terakhir waktu mendaftar.

Menurut dia, tahun ini sistem akan dibuat otomatis mencari anak yang belum diterima dari zonasi terdekat jika kouta sekolah yang bersangkutan belum penuh. Termasuk anak yang tidak mendaftar.

Namun, ketika tiba-tiba ada siswa lain memilih sekolah yang bersangkutan, maka siswa yang terpilih oleh sistem otomatis akan tergeser. “Ketika tiba-tiba ada siswa lain yang memilih di sekolah tersebut, otomatis siswa yang terpilih sistem itu akan tergeser karena tidak memilih di sekolah itu sebelumnya,” tutur Didik.

Terakhir, tambah Didik, untuk tahun ini anak guru bisa mendaftar sekolah melalui dua jalur. Jalur yang pertama yakni jalur zonasi atau prestasi, dan jalur kedua yakni jalur perpindahan tugas orangtua. Untuk jalur kedua sendiri dikhususkan ketika anak yang bersangkutan memilih sekolah dimana orangtuanya bertugas. “Dibuktikan dengan surat penugasan sebagai guru di sekolah tersebut dari pejabat pembina kepegawaian,” ungkapnya. (eno/pra)

Jogja Utama