RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 berdampak pada panjualan ikan yang menurun sampai 40 persen. Hal ini dikarenakan banyaknya restoran, hotel, dan pedagang kaki lima yang tidak beroperasi.

Salah satu penjual ikan air tawar di Pasar Sleman Budi Setyawan menjelaskan, penjualan ikan tawar semasa pandemi Covid-19 menurun cukup drastis. Biasanya Budi biasa menjul hingga satu kwintal, saat ini hanya mampu menjual 30-an kilogram. Menurutnya, pembeli tidak lagi didominasi pedagang makanan namun lebih untuk keperluan rumah tangga. “Karena pada diliburkan, jadi sekarang lebih konsumsi pribadi dan tidak dijual lagi,” ungkap Budi Selasa (21/4).

Sebelum adanya wabah korona, Budi mengaku pembeli setiap hari adalah penjual dari warung kaki lima. Meski permintaan menurun, harga lele masih relatif stabil. Budi biasa menjual Rp 24.000 per kilogram untuk pembeli reguler dan Rp 23.000 per kilogram untuk pedagang kaki lima. Selain itu, Budi juga menjual ikan nila, patin dan bawal yang juga turut mengalami penurunan.

Meskipun penjualan ikan tawar menurun, Budi mengaku, konsumsi ikan laut justru meningkat. Hal ini karena masyarakat percaya bahwa ikan laut yang memiliki gizi lebih tinggi dibandingkan ikan tawar, mampu untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Untuk ikan laut, Budi mengaku setiap harinya mendapatkan stok dari Semarang. Banyaknya daerah yang melakukan lockdown, membuat ekspedisi sedikit terkendala. “Sehingga harga ikan laut juga mengalami kenaikan,” kata Budi.

Sementara itu, salah satu pekerja di kelompok tani ikan di Seyegan, Kardi menuturkan, sejak awal April permintaan berkurang hingga 40 hingga 50 persen. Hal ini dikarenakan banyak pengelola warung lesehan atau kaki lima tidak berjualan. “Biasanya 7 kwintal hingga 8 kwintal, sekarang turun hanya bisa jual 4 hingga 5 kwintal saja,” ungkap Kardi.

Nah, agar tidak terlalu merugi, salah satu solusi yang dilakukan petani ikan dengan memberi pakan sedikit-sedikit. Tapi hal ini juga berisiko ukuran ikan kecil dan sulit dijual. (eno/din)

Sleman