RADAR JOGJA – Penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan beberapa waktu lalu diakui cukup berdampak pada kondisi persampahan di Kabupaten Sleman. Upaya mengatasi masalah sampah terus dilakukan, salah satunya dengan pengadaan Tempat Pembuangan Sementara Reduce Reuse Recyle (TPS 3R). Namun dalam pengadaannya selalu terkendala kesediaan lahan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman Dwi Anta Sudibya mengatakan, saat ini sudah ada 26 TPS 3R di Kabupaten Sleman. Pihaknya pun terus berupaya agar kehadiran TPS 3R di Sleman bisa terus bertambah. Namun, DLH Sleman selalu terkendala ketersediaan lahan.

Dwi pun mengakui kalau tidak semua desa di Sleman telah memiliki TPS 3R. Sebab tidak semua desa memilki tanah yang cukup untuk membuat TPS dengan sistem pengelolaan sampah seperti itu. Sebab, untuk pengadaan lahan memang membutuhkan lahan yang cukup besar. ”Sama dengan tempat pembuangan sampah pada umumnya,’’ ujarnya saat dikonfirmasi Radar Jogja Rabu (15/4).

Dwi menyatakan, kehadiran TPS 3R memang cukup banyak berpengaruh terhadap pengelolaan sampah di Sleman. Dengan sudah dibangunnya 26 TPS 3R, sejatinya sudah mampu mengurangi 20 persen sampah harian yang dibuang ke TPA Piyungan. Produksi sampah Sleman per hari adalah 700 ton.

Kondisi tersebut, mendorong agar desa bisa menyediakan lahan untuk pembangunan TPS 3R. Minimal dengan tanah kas yang dimiliki tiap desa. Termasuk personel pengelolanya.

Menurutnya, itu juga karena meihat permasalahan sampah di TPST Piyungan yang saat ini masuk kategori overload. Selama penutupan tiga hari kemarin, Dwi menyebut sampah yang tidak terangkut di Sleman bahkan mencapai 1.000 ton. “Pembangunan TPS 3R tergantung dari permintaan masyarakat termasuk SDM-nya. Kalau dari dinas, jelas terus akan kami upaya agar terus bertambah,” katanya.

Kepala Balai Pengelola Sampah TPST Piyungan Fauzan Umar membenarkan kalau saat ini kondisi TPST sudah masuk kategori overload. Karena landfill atau sampah yang tertimbun sudah lebih tinggi dari jalan. Kondisi itu menghambat truk sampah masuk ke dalam dermaga.  “Sehingga solusinya, sampah harus didorong ke tengah dan diratakan agar truk bisa masuk,” katanya.

Masalah lain yang dihadapi pengelola TPST Piyungan juga minimnya alat berat. Fauzan menyatakan, pengelola saat ininhanya memiliki empat alat berat, terdiri atas tiga ekskavator dan satu buldozer. Itupun hanya dua yang dapat dioperasikan. Sedangkan sisanya dalam kondisi rusak. Sehingga dia berharap agar dinas di tiap daerah supaya lebih bijak dalam mengelola sampah.(inu/din)

Sleman