RADAR JOGJA – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman menerbitkan surat panduan Ramadan dan Idul Fitri 1441 Hijriyah. Surat ini adalah tindak lanjut dari terbitnya Surat dari Kanwil Kemenag DIJ dan juga Menteri Agama terkait pelaksanaan ibadah Ramadan di tengah pandemik Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Fokusnya adalah imbauan beribadah di rumah untuk menghindari kerumunan.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Sleman Saban Nurani menuturkan kondisi pandemik Covid-19 adalah situasi khusus. Tujuannya agar umat muslim bisa beribadah dengan khusyuk namun tetap menjaga kesehatan diri dan lingkungannya dari Covid-19.

“Untuk puasa, hukumannya tetap wajib dilaksanakan tanpa ada tawar menawar. Hanya saja ibadah lain seperti sholat taraqih, penyaluran zakat hingga sholat Ied diharapkan menyesuaikan,” jelasnya, ditemui di Pendapa Parasamya Pemkab Sleman, Rabu (15/4).

Ibadah-ibadah tersebut, lanjutnya, tetap bisa berlangsung dengan sejumlah catatan. Untuk ibadah sholat tarawih dilakukan di kediamannya masing-masing bersama keluarga inti. Begitupula tadarus yang dilakukan usai ibadah sholat tarawih.

Catatan penting dia berikan terkait budaya berbuka dan saur puasa. Berupa peniadaan kegiatan ini selama Covid-19 masih melanda. Tak hanya bagi personal tapi juga sejumlah instansi yang kerap mengadakan budaya buka puasa setiap tahunnya.

Anjuran ini juga berlaku untuk pembagian zakat. Caranya dengan mengubah mekanisme. Tidak dengan antrian tapi turun langsung ke lingkungan masyarakat. Tentunya diawali dengan pendataan bagi calon penerima zakat.

“Dimohon tidak melakukan buka puasa diluar bersama atau beramai-ramai. Mekanisme zakat juga diubah, antar langsung ke penerimanya. Terus pesantren kilat juga diganti metode daring atau online,” katanya.

Imbauan ini tetap berlaku saat ibadah sholat Ied. Saban meminta warga tidak berkerumun di lapangan atau tanah lapang. Ibadah ini cukup diganti dengan ibadah di kediamannya masing-masing. Begitupula budaya silaturahmi usai bulan Ramadan.

“Untuk pelaksanaan Idhul Fitri diharapkan ibadah di rumah tidak sholat Ied secara beramai di masjid atau di tanah lapang. Silaturahmi cukup melalui online diharapkan tidak melakukan silaturahmi secara fisik untuk memutus mata rantai Covid-19,” pesannya.

Di satu sisi Saban menyadari akan munculnya penolakan atas imbauan ini. Terlebih imbauan yang diberikan sifatnya sangatlah sensitif. Bersinggungan dengan ibadah umat muslim. Hanya saja dia meminta masyarakat bersikap bijak.

Jajarannya juga tak bisa menghalangi apabila masyarakat tetap bertahan dengan argumen bahwa pelaksanaan ibadah Ramadan seperti tahun sebelumnya. Pihaknya juga tak bisa membubarkan secara paksa. Terlebih surat edaran tersebut sifatnya hanya imbauan.

“Nanti kami libatkan 142 penyuluh ke seluruh penjuru Sleman. Lalu camat, kades, aparat dan tokoh setempat. Memberikan pemahaman kepada takmir yang masih melaksanakan ibadah di masjid dan mushola. Beri pandangan dari sisi agama, kesehatan dan tanggungjawab pemerintah setempat,” ujarnya.

Imbauan terkait panduan beribadah ini sifatnya sukarela. Sehingga tidak ada sanksi apabila ada masyarakat yang tak patuh atas imbauan tersebut. Hanya saja Saban meminta agar masyarakat memahami kondisi pandemik Covid-19.

Sifat dari imbauan ini evaluatif. Terlebih jika kondisi pandemik Covid-19 mulai membaik. Tentunya tetap beracuan pada peran Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ dibawah Gubernur DIJ Hamengku Buwono X.

“Apabila dinyatakan aman dari Covid-19 oleh pemerintah, gubernur bupati maka panduan tersebut diabaikan, tapi kalau belum maka panduan dilaksanakan dalam rangka bersama menanggulangi penyebaran Covid-19,” katanya. (dwi/tif)

Sleman