RADAR JOGJA – Gunung Merapi kembali meletus pada Jumat (10/4) pagi. Letusannya tidak begitu berdampak di wilayah Jogjakarta.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida mengatakan, letusan terjadi pukul 09.10 dengan durasi sekitar 103 detik. Ini adalah letusan ke-13 terhitung sejak September 2019 lalu. Dari hasil pengamatannya, dampak dari erupsi itu sempat menghasilkan awan panas dengan tinggi 3.000 meter diatas kubah lava.

Meskipun demikian, kata Hanik, dampak letusan pada pagi kemarin hanya terjadi pada wilayah puncak dengan radius sejauh 3 kilometer. Sehingga tidak membahayakan warga selama berada diluar jarak tersebut. Meskipun demikian, dia tetap meminta agar masyarakat waspada namun jangan panik. “Tetap tenang, tidak panik, dan beraktivitas seperti biasa. Selalu ikuti informasi dari sumber yang terpercaya,” ujarnya kemarin (10/4).

Namun, apabila terjadi guguran abu vulkanik, Hanik meminta agar masyarakat melakukan langkah antisipasi. Pasalnya abu vulkanik dapat membahayakan masalah kesehatan. Diantaranya masalah pernapasan, masalah mata, iritasi kulit, iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, penyakit seperti bronkitis, dan ketidak-nyamanan saat bernapas. “Jika terjadi hujan abu, mohon gunakan masker dan kacamata saat beraktivitas diluar ruangan,” imbaunya.

Sementara itu, Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Makwan menyatakan dampak letusan belum terasa di pemukiman warga. Pada wilayah sekitar lereng juga tidak terjadi hujan abu. Namun sebagai upaya antisipasi, Makwan mengaku sudah melakukan dropping 1.000 pcs masker di Pos KSM Pakem di Dusun Kalitengah, Desa Glagaharjo. “Masker ini nantinya bisa digunakan warga ataupun petugas serta relawan. Guna meminimalisir dampak hujan abu,” katanya.

Senada dengan Hanik, Makwan pun berharap agar masyarakat jangan panik dan tetap mengindahkan arahan petugas apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. Untuk sementara, dia meminta masyarakat waspada terhadap potensi banjir lahar dingin. “Terlebih apabila setelah letusan terjadi hujan lebat di wilayah lereng,” jelasnya. (inu/bah)

Breaking News