RADAR JOGJA – Setelah Asrama Haji Jogjakarta ditetapkan sebagai tempat karantina kasus Covid-19, Pemkab Sleman melakukan berbagai persiapan. Asrama Haji yang digunakan sebagai tempat karantina adalah Gedung Musdalifah.

Anggota Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman Makwan mengatakan di gedung tersebut terdapat 32 kamar. Sebagian kamarnya, memiliki dua tempat tidur. Sehingga dimungkinkan mampu menampung sebanyak 62 orang.

Dijelaskan, pengaturan tempat tidur sudah sesuai dengan standar pencegahan Covid-19 dari World Health Organization (WHO). Yaitu pemberian jarak aman antarpenghuni kamar. ” Jarak masing-masing dua meter. Sehingga satu kamar bisa diisi dua orang,” ujar Makwan ditemui usai kegiatan persiapan lokasi karantina di Gedung Musdalifah, Asrama Haji Jogjakarta Senin (6/4).

Sementara untuk fasilitas lain, Makwan menyatakan di gedung tersebut terdapat sebanyak 22 kamar mandi yang dapat digunakan bergantian oleh penghuni. Kemudian untuk ruang khusus anak nantinya akan digabungkan dengan kamar milik orang tua masing-masing. Sedangkan fasilitas penunjang lain seperti ambulans, akan disesuaikan kebutuhan. ” Seumpama dibutuhkan ambulan akan langsung dihubungi,” katanya.

Lebih lanjut, selain melakukan persiapan terhadap fasilitas gedung, gugus tugas juga telah melakukan pembekalan terhadap petugas kebersihan dan security tentang bagaimana menangani orang terduga kasus Covid-19. Selain pembekalan, para petugas kebersihan dan security di shelter ini nantinya  juga akan diberikan alat pelindung diri (APD). Serta ada petugas medis yang siap siaga.

“Saat ini adalah tahap pembekalan, sebelumnya shelter ini sudah kami lakukan pembersihan dan sterilisasi. Nantinya di sini juga akan ada tim kesehatan yang memantau,” imbuh Makwan.

Dijelaskan, shelter tersebut akan digunakan sebagai tempat penampungan bagi orang dalam pantauan (ODP) yang baru pulang dari zona merah Covid-19. Serta tempat tinggal sementara untuk petugas medis yang ditolak oleh masyarakat di tempat tinggalnya.

Makwan menyatakan, gelombang penolakan masyarakat terhadap orang terduga Covid-19 diprediksi dapat terjadi seiring dengan terus bertambahnya temuan kasus di Jogjakarta. Pihaknya saat ini juga terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat, agar kemudian ODP maupun petugas medis bisa kembali diterima di tempat tinggalnya.

Sementara itu Sekertaris Daerah Sleman Harda Kiswaya menjelaskan, Pemkab Sleman akan memberikan jatah hidup (jadup) bagi pasien positif Covid-19, pasien dalam pengawasan (PDP) dan ODP selama masa isolasi. Dalam penyaluran jadup ini, Harda menyatakan akan melalui Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman di tingkat desa. Daftar penerimannya pun harus melalui verifikasi camat dan kepala desa. Serta Dinas Sosial apabila masuk dalam kategori renta/miskin. “Untuk besarannya adalah Rp.45.000 tiap anggota keluarga,” ujarnya. (inu/bah)

Sleman