RADAR JOGJA – Jumlah nara pidana (napi) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Cebongan, Sleman akhirnya hanya berkurang 54 orang. Itu sesuai dengan hasil verifikasi yang dilakukan Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Kasubsi Registrasi dan Bimbingan Kemasyarakatan Rajindra Pragnya mengatakan, sebelumnya pihak Lapas Cebongan mengajukan 99 napi agar bisa diberikan asimilasi. Namun hanya ada 54 yang memenuhi syarat untuk bisa diasimilasi atau dirumahkan.

Indra menuturkan para napi tersebut dirumahkan dalam beberapa tahap. Tahap pertama, 23 napi dinyatakan bebas pada tanggal 1 April lalu, kemudian tahap keuda pada 2 April sebanyak lima narapidana. Pada tahap ketiga yaitu ditanggal 3 April ada 21 narapidana yang dibebaskan dan tahap keempat pada 4 April 2020 ada limaorang narapidana. Sehingga, total yang memenuhi syarat untuk asimilasi ada 54 narapidana.”Jadi tidak sampai 99 orang seperti jumlah sebelumnya,” ujarnya Minggu (5/4).

Dijelaskan, asimilasi ini diberikan sebagai langkah pencegahan Covid-19 atau korona di lingkungan lapas sesuai keputusan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laloy. Setelah bebas, para napi juga tidak diperkenankan untuk berkeliaran dirumah dahulu. “Serta wajib melalukan upaya pencegahan korona di lingkungannya,” kata dia.

Indra menjelaskan, asimilasi bagi para napi berbeda maknanya dengan bebas bersyarat. Mereka tetap berstatus narapidana aktif, hanya dirumahkan dan tetap dalam pengawasan petugas lapas.”Jadi mereka ini diasimilasi untuk mencegah korona, jadi tidak bebas keluyuran serta diwajibkan tetap berada di rumah,” jelasnya.

Sebagai informasi, kebijakan asimilasi narapidana tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020 yang ditandatangani oleh Menkumham Yasonna Laoly.

Dalam keputusan itu mengatur tentang pengeluaran narapidana dan anak dapat melalui asimilasi, namun harus dilakukan dengan berbagai ketentuan. Berlaku sejak ditetapkan pada Senin, 30 Maret 2020 lalu. (inu/pra)

Sleman