RADAR JOGJA – Erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada Selasa (3/3) pagi sekitar pukul 05.22, sempat mengagetkan warga. Bahkan di sebagian wilayah di Jawa Tengah bahkan mendapat dampaknya. Namun untuk wilayah Jogjakarta khususnya Sleman, instansi terkait menyatakan status aman.

Data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta, tinggi awan panas kurang lebih mencapai 6.000 meter dari atas kubah lava. Semburan awan panas juga sempat disertai petir dan suara bergemuruh. Sebagian wilayah di Jawa Tengah seperti Klaten dan Boyolali juga mendapat mengalami hujan abu vulkanik.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Makwan menyatakan, meskipun Gunung Merapi mengalami erupsi, area sekitar lereng Merapi yang berada di wilayah Sleman tidak mendapatkan dampaknya. “Hingga siang pascaerupsi Merapi, wilayah Sleman terpantau tidak mengalami hujan abu,” katanya Selasa (3/3).

Makwan pun meminta agar masyarakat tetap tenang dan tidak perlu khawatir tentang erupsi yang sempat terjadi. Meskipun demikan masyarakat diharap tetap waspada dan selalu mengikuti arahan petugas. “Sleman tidak terdampak, tapi masyarakat harus waspada,” pesannya.

Pascaerupsi Gunung Merapi juga tidak membuat aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Adisutjipto Jogjakarta terganggu. Tak seperti di Bandara Adisumarmo Boyolali, yang sempat ditutup dua jam. General Manager Angkasa Pura 1 Jogjakarta Agus Pandu Purnama menjelaskan, penerbangan di Jogjakarta masih berjalan normal.

Pengamatan terkait Airport Fire Fighting and Rescue (AFFR) dan Airport Operation Control Center (AOCC) juga dilakukan dari pukul 06.00-06.50 dan menunjukkan tiupan angin mengarah ke utara dan barat daya. “Pengecekan dengan paper test juga menunjukkan keadaan negatif atau tidak mengganggu penerbangan,” kata Pandu.

Berdasarkan data yang diterima dari petugas AFFR, angin bertiup dengan kecepatan 30 Knot. Sementara, ketinggian guguran awan panas mencapai enam kilometer, yang mengarah ke Kali Gendol, dengan jarak maksimal dua kilometer. “Yang dari pagi arah anginnya ke utara yang agak siang ke barat daya, jadi tidak ada yang bandara. Kalau ngin itu ke selatan, baru masuk ke Bandara Adisutjipto,” tambahnya.

Sementara itu Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menyebut, warga di sekitar Gunung Merapi sudah memahami apa yang arus dilakukan jika ada erupsi. Letusan yang terjadi dianggapnya wajar sebab Merapi adalah salah satu gungug berapi teraktif di dunia. “Kita saja yang mempermasalahkan, padahal orang sekitar Merapi biasa. Orang Merapi sudah tahu apa yang mereka lakukan, sudah diajari karena mereka sudah empat tahun sekali ada kejadian. Mereka sudah berpengalaman,” tuturnya. (inu/eno/tor/pra)

Sleman