RADAR JOGJA – Pemerintah Desa Condongcatur, Sleman memecahkan  rekor nasional sekaligus dunia di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui kirab 1000 Bregada 1000 Tumpeng di Taman Kuliner Condongcatur, Sleman, Minggu (1/3). Tercatat dalam Piagam Penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia No 9448/R.MURI/III/2020. 

1.000 tumpeng yang dikirab dibawa oleh empat bregada dari empat kring se-Desa Condongcatur. Di antaranya Kribg Gejayan dengan Bregodo Sastradiharjan, Kring Manukan dengan Paksi Jayeng Katon, Kring Gorongan dengan Bregodo Hadi Manggala, dan Kring Kentungan dengan Bregodo Krama Yudha.

Kepala Desa Condongcatur, Reno Candra Sangaji menjelaskan, kegiatan ini untuk memperingati 71 tahun Serangan Umum 1 Maret sekaligus melestarikan budaya. “Ini juga sebagai bukti Pemerintah Desa Condongcatur selalu mengawal keistimewaan terkait nilai-nilai budaya. Nanti akan masih ada event-event lain, karena festival budaya ini sudah menjadi agenda rutin,” jelasnya.

Acara dimeriahkan pula dengan tarian Sang Pangeran yang menceritakan perjuangan Pangeran Diponegoro, teatrikal Serangan Umum 1 Maret, hinga tarian medley Tari Gema Nusantara yang mengambarkan keragaman warga Condongcatur yang berasal dari seluruh wilayah Nusantara. 

“Karena beragam dari banyak suku bangsa, saya menitipkan pesan untuk warga bahwa Condongcatur untuk semua,” ujar Reno.

Perwakilan dari MURI Sri Widayati mengatakan kirab tumpeng kali ini merupakan gelaran yang spektakuler. Dari hasil verifikasi, ada 1.007  tumpeng yang dibawa bregada. Pemecahan rekor tercacat di museum rekor dunia Indonesia yang ke-9448.

“Kami yang terbiasa berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia tidak percaya yang melakukan ini pemerintah desa, padahal biasanya yang melakukan cetak rekor sekelas pemerintah kabupaten atau pemerintah kota,” ungkapnya.

Wida menegaskan kegiatan ini tidak hanya tercatat sebagai rekor nasional, tetapi sebagai rekor dunia. “Sebagai bukti tercatatnya prestasi ini, kami akan anugerahkan sertifikat kepada kepala desa Pemerintah Desa Condongcatur,” tandasnya.

Salah satu warga peserta kirab Sri Wahyuni mengaku ingin berpartisipasi karena jarang menemui acara seperti ini. 

Warga Manggungsari, Condongcatur ini akan memberikan tumpengnya kepada anaknya yang akan berulang tahun pada tanggal 7 Maret mendatang. “Jadi hari ini tumpengnya dulu,” ujarnya. (sky/tif)

Sleman