RADAR JOGJA – Musibah meninggalnya lima siswa SMPN 1 Turi saat susur sungai di Sungai Sempor mengundang simpati mendalam dari Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka DIJ GKR Mangkubumi. Putri Raja Keraton Jogja Sultan HB X tersebut mengaku sangat prihatin dengan terjadinya musibah tersebut.

”Saya ikut prihatin atas peristiwa ini. Ikut bela sungkawa dan sedih atas kejadian ini,” jelas GKR Mangkubumi kepada Radar Jogja kemarin (21/2).

GKR Mangkubumi, yang kemarin sedang mengikuti Rakernas Pramuka di Cibubur, Jakarta, secara khusus meminta pembina dan pembimbing waspada saat melaksanakan kegiatan. Termasuk peka terhadap cuaca.

”Mohon para pembina atau pendamping lebih waspada dan peka akan keadaan dan cuaca.

GKR Mangkubumi juga langsung bertindak. Dia meminta Kwarda Pramuka DIJ terjun ke lokasi kejadian.

”Saya sudah minta wakil bidang abdimas ke lokasi. Mohon maaf saya belum kembali ke Jogja, baru selesai acara Rakernas Pramuka di Cibubur,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Organisasi, Manajemen, dan Hukum Kwarda Pramuka DIJ Edy Heri Suasana mengaku masih mencermati musibah yang terjadi saat susur sungai yang dilaksanakan ratusan siswa SMPN1 Turi. Dia menegaskan, semestinya ada standar untuk pelaksanaan perkemahan dan kegiatan kepramukaan yang lain.

“Saya belum banyak komentar, saya baru tahu ini,” kata Edy saat dihubungi Radar Jogja kemarin.

Saat itu, dia mengaku baru saja turun dari pesawat. Dia mengaku langsung menuju lokasi kejadian.

Edy menjelaskan, semestinya setiap kali adanya kegiatan Pramuka, termasuk susur sungai, harus dilakukan survei sebelumnya. Langkah ini guna melihat situasi dan kondisi saat kegiatan dilaksanakan. “Ketika memang hujan (gugus depan) sudah diberi portal tentang manajemen risiko,” katanya.

Musibah yang menyebabkan lima siswa meninggal dunia ini akan ditindaklanjuti dengan melakukan kajian mendalam terlebih dahulu terkait kesalahan yang mungkin terjadi. Kata Edy, perlu dikaji apakah kesalahan ada pada pihak pembina atau para siswa. “Atau, ada murid yang tiba-tiba masuk sungai dan kemudian mempengaruhi yang lain? Ini perlu kamo dalami persoalannya dulu,” katanya.

Dia menegaskan Kwarda Pramuka DIJ segera berkoordinasi untuk bertemu pihak-pihak terkait seperti pihak sekolah maupun gugus depan. “Untuk melihat posisi kesalahannya gimana. Ini prioritas untuk penyelamatan dulu,” ungkapnya.

Edy bersama tim menuju lokasi kejadian dengan prioritas pada penyelamatan dan pencariaan siswa yang belum ditemukan. “Ini menjadi pembelajaran bagi semua gugus depan untuk melakukan kehati-hatian dan manajemen risiko setiap akan ada kegiatan-kegiayan seperti itu,” ucap figur yang menjabat Asisten Umum Sekretaris Daerah Setda Kota Jogja tersebut.

Ditegaskan, sebenarnya sudah ada imbauan yang disampaikan sejak Desember 2019 lalu. Imbauan itu meminta semua kwartir cabang ranting sampai gugus depan yang berhubungan dengan kepramukaan untuk sangat berhati-hati melakukan kegiatan kepramukaan saat musim hujan. “Memang waktu itu baru kehati-hatian saja belum pada teknis,” imbuhnya. (wia/pra/amd/by)

Jogja Utama