RADAR JOGJA – Gangguan atau anomali cuaca yang saat ini muncul tiba-tiba, membuat perkiraan cuaca terganggu. Wilayah Jogjakarta yang sudah memasuki musim hujan, beberapa hari terakhir nampak seperti musim kemarau.

Kepala Stasiun Klimatologi Mlati Reni Karningtyas menjelaskan, pantauan citra satelit Himawari pada Jumat (17/1) menunjukkan tidak adanya awan hitam di langit. Selain itu, angin yang berembus kering dan hangat, serta tidak adanya rintik hujan membuat kelembaban udara di Jogjakarta mencapai 53 persen dengan suhu maksimum 32 derajat celcius.

Menurut Reni, keadaan ini didukung pola angin yang menunjukkan hembusan Angin Timuran atau Monsun Australia bersifat kering mencapai Jawa. Bahkan Sulawesi. “Ini yang membuat cuaca cerah dan panas,” jelas Reni kemarin (18/1).

Fenomena saat ini termasuk anomali cuaca. Mengingat seharusnya Januari sudah dan masih masuk musim penghujan. Meskipun kondisi jeda hujan atau Monsun Break berpotensi di musim hujan, Rani mengaku frekuensi kejadiannya sangat jarang terjadi.

Reni menambahkan, intruisi massa udara dari Australia yang bersifat kering dan masuk ke Jawa-Sulawesi, baru kali ini terjadi. Kondisi ini diperkirakan berlangsung selama lima sampai tujuh hari.

Reni mengimbau kepada masyarakat untuk memerhatikan kesehatan. Sebab, perubahan cuaca seperti saat ini dapat menurunkan kekebalan tubuh.

“Masyarakat bisa menjaga stamina dan mengonsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi,” tambah Reni.

Sedangkan untuk bidang pertanian, agar petani lebih berkoordinasi dengan dinas pertanian, terkait masa tanam dan pengairan. (eno/din)

Breaking News