Radar Jogja – Abhiseka Sudah ribuan tahun umat Hindu tidak melaksanakan upacara Abhiseka. Upacara itu baru dilakukan lagi pada 2019 lalu. Siapa sosok di balik terselenggaranya upacara ini?

Adalah Nur Khotimah, perempuan 27 tahun yang menjadi inisiator dilangsungkannya upacara Abhiseka. Padahal sudah 1.163 tahun tidak terselenggara.

Perempuan asal Klaten, Jawa Tengah, ini adalah lulusan S2 Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja. Dia “menemukan” upacara itu saat mengerjakan tesis, medio Mei-Juli 2019. Tesis yang dia tulis diberi judul “Pemanfaatan Candi Prambanan untuk Kepentingan Agama Hindu”.

Dalam latar bekalang tesis disebutkan tentang sejarah Candi Prambanan. Saat melakukan riset, secara tidak sengaja dia menemukan beberapa buku yang membahas prasasti Siwagrha. “Dalam prasasti disebutkan walung gunung sang wiku yang artinya 778 Saka atau 856 Masehi,” jelasnya.

Penemuan itu menggelitiknya. Dia lantas melakukan penelusuran literatur lain untuk menuntaskan dahaga keingintahuannya. Akhirnya dia menemukan literatur yang ditulis LC Damais, seorang epigraph dari Prancis yang bisa membaca candrasengkala atau angka penahunan. Di sana dijelaskan, berdirinya Candi Prambanan adalah 12 November 856 Masehi.

Dalam literatur itu juga dia menemukan ritual yang menyertainya. Itulah ritual atau upacara Abhiseke. Yakni upacara penyucian dan peringatan diresmikannya Candi Prambanan. “Upacara ini sebenarnya sudah ada, tapi karena apa ya, mungkin tidak ngeh saja,” terangnya.

Setelah menemukan sejarah itu, dia pun berusaha menjelaskan ke umat Hindu. Diakui, ada berbagai permasalahan yang dihadapi. Sebab, dia berangkat dari kajian ilmiah. Beda dengan umat Hindu.

“Awalnya juga susah, karena saya berbasis ilmiah, dan umat Hindu berbasis ritual, ya harus dijelaskan pelan-pelan. Sempat ada pro kontra  di situ,” ungkapnya.

Namun lambat laun banyak umat yang mendukung. Buktinya, upacara Abhiseke dapat terlaksana dan tergolong sukses. Banyak umat dari luar DIJ turut hadir dalam upacara tersebut.

“Selama ini umat menggunakan Candi Prambanan untuk tawur agung, tapi itu untuk pembersihan alam semesta. Sedangkan untuk candinya belum dilakukan pembersihan,” ujarnya.

Karena baru kali pertama diadakan, tak banyak umat yang datang, jika dibandingkan upacara keagamaan lainya. Namun upacara ini rencananya akan dilakukan setiap tahun.

Upacara penyucian dan peringatan diresmikan Candi Prambanan dilakukan oleh Rakai Pikatan Dyah Saladu pada Wualung Gunung Sang Wiku atau tahun 856 M. Juga untuk menandai puncak kekuasaan kerajaan Mataram Kuna. “Ini pertama kalinya Abhiseka dilaksanakan setelah 1.163 tahun,” ujar Made Astra Tanaya.

Dia menceritakan, biasanya umat Hindu hanya memperingati tawur agung di lokasi yang sama. Sebagai salah satu upacara untuk menyucikan manusia dan alam semesta. Namun dengan adanya Abhiseka, Candi Prambanan pun turut disucikan.

Menurutnya, setiap ritual yang dilakukan oleh umat Hindu memiliki makna mendalam. Apalagi dengan keberadaan Candi Prambanan yang menjadi pusat energi bagi umat Hindu. “Abhiseka ini merupakan upacara yang mendasar,” terangnya.

Made Astra yang juga Koordinator Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) DIJ ini mengungkapkan, kondisi Candi Prambanan setelah Mataram Hindu pindah ke Jawa Timur, menjadi terbengkalai. Ditambah lagi dengan adanya letusan Merapi yang mengubur candi. “Baru beberapa ratus tahun ini mulai terawat,” terangnya.

Oleh sebab itu, Abhiseka menjadi salah satu titik balik untuk mengembalikan energi. Kekuatan itulah yang nantinya berimbas pada manusia dan alam. “Jadi Abhiseke untuk menguatkan energi dan getaran itu,” ungkapnya.  (har/laz)

Sleman