RADAR JOGJA – Kasus pencabulan yang dilakukan oknum PNS guru SD sudah diproses hukum. Supardjianto, 48, warga Margomulyo, Seyegan, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi sejak Desember 2019.
Kepastian dijadikan tersangka ini membuat pihak orang tua para korban merasa lega. Hal itu diungkapkan oleh satu orang tua siswi, SUM, 48, warga Seyegan. “Ya lumayan lega, dia sudah jadi tersangka,” ujarnya saat dihubungi kemarin (10/1).

Ia mengaku sempat merasa emosi dengan pelaku. Lantaran pelaku tidak pernah mengakui perbuatannya. “Tapi ya silakan saja, karena kan ada bukti dan saksi,” ujarnya.

Sebagai orang tua dari salah satu korban kebiadaban pelaku, dia meminta agar tersangka dihukum berat. Sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Ia khawatir jika tidak diberikan efek jera, pelaku di kemudian hari akan melakukan aksi cabulnya lagi.

Lebih lanjut saat ini dia lebih fokus untuk mengembalikan psikologis anak. Sebab, dari penuturannya, setiap kali anaknya ingat kejadian tersebut ada perubahan sikap. “Tapi ya kadang berubah, tapi berangsur hilang,” ungkapya.
Oleh karenanya, sejauh ini setiap ada kabar yang menyangkut pelaku, dia berusaha untuk tidak memberitahukan kepada anaknya. Untuk menjaga agar psikologis anak tidak terganggu. “Tapi sejak pelaku sudah tidak mengajar, kondisi anak sudah mulai membaik,” terangnya.

Pendampingan, lanjutnya, selain dari orang tua juga dilakukan oleh pihak kecamatan. Dinas sosial pun turut memberikan pendampingan. Termasuk juga dari unit PPA. Bahkan sekitar dua kali psikiater datang ke sekolah. “Harapan saya di sekolah juga ikut membantu mengembalikan kondisi anak,” katanya.

Sementara itu, sanksi tegas menanti oknum guru cabul itu jika terbukti bersalah dan dijatuhkan vonis oleh pengadilan. Apalagi tersangka berstatus sebagai ASN.
Kabid Pembinaan dan Kesejahteraan Pegawai Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Sleman Sri Wahyuni menjelaskan sesuai aturan dalam PP No 11/2017 tentang Manajemen ASN. Saat ini, status kepegawaian tersangka diberlakukan pemberhentian sementara.

Dia mengutarakan, keputusan lebih lanjut terkait status pelaku sebagai ASN masih harus menunggu keputusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap (inchrach). “Ini sedang proses dan laporan dari dinas sudah masuk dari Desember,” bebernya. (har/laz)

Sleman