RADAR JOGJA – Pelaku perusakan dan penganiayaan yang terjadi Minggu (5/1) lalu akhirnya bisa dibekuk polisi. Para pelaku berhasil diamankan dalam waktu lima hari setelah kejadian. Kini semuanya sudah ditahan. Dua orang pelaku ada yang masih di bawah umur dan ada satu residivis. Semua pelaku ditampilkan kepada wartawan di Mapolda DIJ, kemarin (10/1).
Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah menjelaskan, dari hasil penyidikan diketahui para pelaku tergabung dalam satu geng bernama “Street Geng”. Rizky mengungkapkan, ada tiga tempat kejadian perkara (TKP) pada kasus yang terjadi Sabtu malam (4/1) hingga Minggu dinihari (5/1).
Para pelaku yakni berinisial ES, 21; ADL, 17; RAS, 21; AP, 21; SAS, 21; AGW, 21; RMM, 20, semuanya warga Baciro, Gondokusuman, Kota Jogja, dan RA, 21, warga Bausasran, Pakualaman, Kota Jogja. Dua tersangka lagi adalah AHI, 19, dan YM, 17, warga Sanggrahan, Condongcatur, Depok, Sleman.
Mereka beraksi di tempat kejadian perkara (TKP) warung penyetan di Jalan Anggajaya 2 No 84, Sanggrahan, Condongcatur. Aksi mereka mengakibatkan kerusakan di warung penyetan itu dan menimbulkan kerugian hingga jutaan rupiah.
Di TKP Jalan Perumnas, Gorongan, Condongcatur, ada empat pelaku yang diamankan. Yakni AP, 21, RMM, 20, AGW, 21, dan SAS, 21. Keempatnya merupakan warga Baciro, Jogja. Mengakibatkan satu orang menjadi korban dan mengalami luka bacok pada bagian kepala. Korban diketahui dalam kondisi selamat.
Selanjutnya di TKP Jalan Moses Gatotkaca, ada dua pelaku yang diamankan yakni AGW, 21, dan RMM, 20, warga Baciro, Jogja. Aksi mereka mengakibatkan dua orang menjadi korban. Satu orang mengalami luka sobek pada jari manis tangan kiri, memar pada punggung dan memar tangan kiri. Satu lagi luka sobek pada bahu kiri. “Jadi peristiwa tanggal 4 dan 5 Januari itu ada tiga TKP, dan itu merupakan rangkaian,” ujar Rizky.
Perwira menengah dengan dua melati itu menjelaskan, kejadian bermula saat para pelaku mengadakan acara syukuran di salah satu kafe di daerah Nologaten, Depok. Ketika selesai acara, menurut pengakuan pelaku, mereka didatangi salah satu geng sekolah. “Kemudian setelah cekcok itu, mereka keliling di tiga TKP itu,” jelasnya.
Rizky menjelaskan, dari semua pelaku ada yang beraksi di dua TKP yakni yang berinisial AP. Ada juga yang beraksi di tiga TKP yakni berinisial AGW. Semuanya dapat diproses karena sudah memiliki peran masing-masing.
Ada yang menjadi joki, ikut melakukan pemukulan, pelempar batu, dan satu orang melakukan kekerasan dengan senjata tajam. Total ada 10 pelaku yang berhasil ditangkap. “Yang pakai sajam itu AGW, dia residivis di 2019 dan pernah diproses di Polsek Gondokusuman dengan kasus yang sama,” terangnya.
Semua pelaku, lanjutnya, beraksi dalam pengaruh minuman beralkohol. Mereka juga bukan berasal dari satu sekolah. Walaupun acara geng itu merupakan ajakan dari alumni salah satu almamater pelaku. Kronologinya, dari kafe lanjut ke warung penyetan, kemudian ke Jalan Perumnas, dan terkahir di Jalan Moses. “Memang jarak antarkejadian tipis,” bebernya.
Rizky menegaskan akan memberikan hukuman berat kepada para pelaku. Bahkan dia tidak segan-segan memberikan hukuman dengan pasal berlapis sesuai dengan TKP. “Ini adalah warning, ke depan kami akan ambil tindakan tegas karena sudah cukup meresahkan,” tegasnya.
Barang bukti yang disita polisi berupa dua bilah celurit yang digunakan, tiga unit motor matik, batu, dan baju yang digunakan oleh pelaku. Mereka akan dijerat dengan Pasal 170 KUHP, Pasal 351, dan UU Darurat RI No 12/1951. Mereka diancam lima tahun hukuman panjara. “Tapi ada yang dua TKP, tiga TKP. Nanti akan kami berikan hukuman berlapis,” tegasnya.
Kasat Reskrim Polres Sleman AKP Rudy Prabowo menambahkan, Street Gang ini merupakan geng baru dan bukan merupakan geng sekolah. Walaupun ada alumni dari beberapa sekolah tergabung di dalamnya. Lahirnya geng ini berawal dari geng yang ada di sekolah. Kemudian saat ada acara syukuran mengundang alumni. “Jadi yang tertangkap rata-rata alumni geng sekolah,” bebernya.
Dia juga menjelaskan, tidak ada sistem perekrutan. Hanya berawal dari teman nongkrong. Dia menjelaskan sejak awal 10 orang inilah yang beraksi dengan lima motor. “Ada yang jadi joki dulu. Lalu kalau sudah berani, mereka menyebut dengan fighter lalu leader,” terangnya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda DIJ Kombes Pol Yuliyanto mengatakan, ada perbedaan penanganan terhadap pelaku. Yakni untuk yang masih di bawah umur. “Khusus di bawah umur cara penanganan berbeda, penahanan berbeda, pemeriksaan berbeda, tata cara sidang juga beda. Kepolisian melakukan penegakan hukum, tetapi tidak boleh melanggar hukum,” ujarnya. (har/laz/by)

Sleman