RADAR JOGJA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman melakukan pengecekan terhadap kantong-kantong lahar. Ini dilakukan untuk memastikan kantong-kantong lahar di sungai yang berhulu di Gunung Merapi siap berfungsi jika sewaktu-waktu terjadi lahar hujan.

Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono menjelaskan, pemantauan baru dilakukan di Sungai Gendol dan Sungai Opak. Sebab, untuk sungai lain yang berhulu di Gunung Merapi belum ada laporan ada aliran lahar hujan. “Sejauh ini yang terpantau dan dilaporkan ada lahar hujan baru dua sungai itu,” ujar Joko kemarin (8/1).

Pemantauan dimulai dari pethit Opak atau di kantong lahar paling atas. Kemudian dilanjutkan ke kantong lahar di sisi bawah secara menyeluruh.
Menurut Joko, kantong lahar saat ini dalam kondisi siap untuk menampung dan mengendalikan lahar hujan, sesuai fungsinya. Mengingat dalam beberapa waktu terakhir puncak Gunung Merapi kerap terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Kendati demikian, Joko memastikan, tidak ada potensi aliran lahar yang sampai membahayakan permukiman. Sebab, kondisi sungai sudah tergolong dalam. Selain itu, material vulkanik Gunung Merapi jumlahnya belum sebanyak material saat letusan 2010 silam. “Sehingga kalau untuk permukiman tidak berbahaya,” tegasnya.

Berdasarkan pantauannya, material lahar yang terjadi beberapa waktu lalu masih berada di sekitar 5 kilometer dari puncak. Material mengisi lubang-lubang bekas galian tambang dan belum memenuhi kantong lahar. “Bahkan di kantong lahar paling atas yakni di bawah pethit Opak bekas galian tambang baru terisi sedikit,” bebernya.

Namun, dia menyebut potensi bahaya paling besar justru datang untuk penambang pasir. Oleh karenanya, dia mengimbau ketika terjadi hujan deras dengan durasi lama di puncak Merapi, penambang diminta segera naik dari dasar sungai. “Termasuk alat berat juga harus berhenti dan menyingkir dulu,” tegasnya.

Untuk saat ini, pihaknya memastikan sekitar 32 unit alat early warning system (EWS) dapat berfungsi dengan baik. Termasuk menyiagakan petugas di atas agar dapat menginfokan dengan cepat jika sewaktu-waktu ada aliran lahar hujan.

Selain adanya potensi lahar hujan, ancaman lain juga datang dari longsor. Terutama pada tebing-tebing jurang. Sehingga para penambang diminta tidak menambang di dekat tebing. Namun menambang di sungai.

Sementara itu, Supriyadi, 28, warga Cangkringan mengaku tidak khawatir jika terjadi lahar hujan. Sebab, setiap kali hujan deras selama ini hanya debit air sungai saja yang bertambah. Dia justru khawatir dengan longsor di tebing dan hujan disertai angin kencang. “Apalagi daerah Cangkringan masih banyak pohon,” terangnya. (har/din)

Jogja Utama