RADAR JOGJA – Kondisi drainase di Sleman masih belum baik. Buktinya, ketika hujan lebat, jalanan masih tergenang. Di beberapa lokasi bahkan jalan berubah menyerupai aliran sungai. Seperti di Jalan Kaliurang KM 7,5 Banteng, Ngaglik, Sleman.

Setiap hujan deras turun, drainase di sisi barat jalan selalu membeludak. Demikian juga dengan sisi timur, tepatnya di selatan gardu induk PLN Kentungan. “Kalau hujan genangannya tidak tanggung-tanggung,” ujar Agus Parwoko, 38, warga Ngaglik (29/12).

Dia menjelaskan, lokasi tersebut memang menjadi langganan genangan. Hal itu sudah berlangsung sejak lama. Hingga kini, pemerintah belum melakukan perbaikan.

‘’Padahal bahaya juga kalau hujan deras, alirannya menyerupai sungai, arusnya juga lumayan deras,’’ ujar Agus.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman Sapto Winarno tidak memungkiri hal tersebut. Di Sleman masih ada beberapa titik yang jika hujan deras muncul genangan.

Sapto mencatat, setidaknya daerah sekitar Pasar Condongcatur, UPN Veteran, dan Ambarrukmo Plaza menjadi titik prioritas untuk perbaikan drainase. ‘’Kalau perbaikan drainase, tidak bisa sepotong-sepotong,” ujar Sapto.

Pada 2020 mendatang, pihaknya sudah memiliki masterplan. Titik prioritas tadi akan didahulukan untuk dilakukan perbaikan. Selanjutnya, drainase lain di Sleman akan diperbaiki secara bertahap. ‘’Prioritas kami di tiga titik itu dulu, kalau yang lain relatif aman karena sudah ada embung,’’ kata Sapto.

Melubernya air dari saluran drainase, kata Sapto, bukan hanya diakibatkan dimensi drainase yang sudah tidak sesuai. Perilaku masyarakat yang kerap membuang sampah di saluran drainase juga berpengaruh. ‘’Sehingga mengakibatkan saluran tersumbat,’’ ujarnya.

Persoalan tersumbatnya saluran drainase, kata Sapto, bukan hanya di Jalan Kaliurang. Di beberapa titik genangan, turut ditemukan hal yang sama.

Guna mencegah tersumbatnya saluran drainase, pihaknya telah melakukan beberapa kali upaya untuk membersihkan sampah dari saluran drainase. Namun, diakuinya setiap kali terjadi hujan lebat masih terjadi genangan. ‘’Sampai saat ini kami terus melakukan normalisasi drainase,’’ katanya.

Selain masalah sampah, persoalan muncul ketika dilakukan pekerjaan perbaikan saluran drainase. Sebab, saat ini rata-rata lokasi drainase berada dekat dengan permukiman warga. Oleh karenanya ada dampak yang ditimbulkan.

Kemacetan dan debu, contohnya. ‘’Tapi kalau ada perbaikan, kami minta masyarakat memaklumi, karena ini kalau selesai akan mengurangi genangan,’’ ujar Sapto.

Pada 2020, pihaknya memiliki anggaran total sekitar Rp 10 miliar hingga Rp 15 miliar. Jumlah tersebut untuk penanganan drainase yang mencakup seluruh wilayah Sleman. (har/iwa/rg)

Sleman