RADAR JOGJA – Dalam kurun seminggu, wilayah Sleman diguyur hujan lebat, disertai angin. Bahkan di Kecamatan Berbah terjadi hujan es, Rabu (25/12).

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan mengatakan dalam kejadian tersebut, ada 8 lokasi terkena imbas. Tersebar di Berbah, Prambanan, dan Gamping. “Terpantau hujan es di Dusun Blendangan, Tegaltirto, Berbah,” ujar Makwan.

Selain hujan es, kejadian di Berbah menyebabkan dua rumah rusak, satu tempat usaha rusak, dua jaringan listrik rusak dan satu jaringan telepon putus. Rumah rusak dilaporkan juga terjadi di Gamping.

Hujan angin membuat akses jalan tertutup batang pohon. Makwan menjelaskan TRC BPBD Sleman dan relawan berusaha segera membuka akses jalan. Ratusan genting terempas tiupan angin. “Korban jiwa tidak ada,” kata Makwan.

Sejak sepekan yang lalu, tercatat hujan angin terjadi di 91 lokasi. Paling parah pada 21 Desember 2019. Ada 66 lokasi dengan korban luka dua orang. Ada rumah tersambar petir, menyebabkan korban luka.

Lokasi yang sering terjadi hujan angin yakni Berbah, Prambanan, Cangkringan, Pakem, Ngaglik, Ngemplak, dan Turi. “Namun potensi bencana hidrometeorologi di Sleman ini terjadi merata,” kata Makwan.

Dia meminta masyarakat tetap waspada. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) potensi hujan lebat dan angin kencang di Jogjakarta masih terjadi hingga 27 Desember 2019.

Saat hujan lebat, dia meminta agar tidak berhenti terlalu lama di sekitar pohon. Menghindari kejadian warga tertimpa pohon tumbang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Dwi Anta Sudibya membolehkan warga membantu memangkas pohon yang dianggap rawan tumbang. Pohon yang dimaksud Dibya, sapaannya, yakni pohon perindang jalan milik Pemkab Sleman. “Boleh (memangkas), selama memotong dahan, bukan (memotong) batang pohon,” kata Dibya.

Hal itu dikarenakan hingga saat ini pihaknya masih terkendala keterbatasan peralatan. Untuk melakukan pemangkasan pohon.

“Sampai saat ini kami hanya ada satu kendaraan skylift, dimana per hari baru rata-rata bisa memangkas tiga hingga empat pohon,” kata Dibya.

Akibatnya, pihaknya tidak bisa memenuhi semua permintaan masyarakat memangkas pohon. Padahal permintaan semakin meningkat saat musim hujan ini. “Jadi, kami baru akan memenuhi permintaan jika kondisi pohon benar-benar mengganggu,” kata Dibya. (har/iwa/rg)

Sleman