RADAR JOGJA – Potensi pohon tumbang di Sleman masih besar. Apalagi hujan disertai angin kencang diprediksi masih akan terjadi. Perlu ada program inventarisasi pohon rawan tumbang, dan dimasukkan ke dalam program jangka panjang pemkab.

Direktur Walhi DIJ Halik Sandera mengatakan pengawasan pohon harus dilakukan rutin. Hasil pemantauan disampaikan ke publik. “Sehingga masyarakat bisa ikut menjaga pohon di wilayahnya,” kata Halik (15/12).

Dalam beberapa kasus terdapat kendala dalam penerapan ekspos publik terhadap hasil pemetaan. Misalnya ada dahan pohon mengganggu yang berada dekat dengan utilitas milik PLN.

Hal itu, kata Halik, menjadi tanggung jawab PLN. Dengan demikian, masyarakat perlu tahu sistem apa yang paling tepat untuk menyampaikan informasi dengan mudah.

“Kalau menjadi satu sistem inventarisasi yang rutin, artinya ini (bencana pohon tumbang) bisa diantisipasi,” ujar Halik.

Dia menjelaskan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemetaan dan penanganan pohon rawan tumbang. Di antaranya, perlu dipantau secara mendetail kondisi pohon. Mulai jenis akar, tingkat kerapuhan, hingga tingkat urgensi pemangkasan.

Perlu diketahui seberapa kemampuan adaptasi pohon terhadap lingkungan. Apakah pohon merusak struktur jalan maupun trotoar dan seberapa kekuatan akar pohon menjaga keseimbangan.

Selama ini pemangkasan hanya dilakukan pada sisi yang dibutuhkan. Misalnya ada dahan pohon karena sudah mengganggu jalan dan atap atau terlalu rimbun lalu dipangkas sedangkan kondisi akarnya tidak diperhatikan. “Sehingga memicu pohon roboh ketika terjadi hujan disertai angin kencang,” ungkap Halik.

Walhi belum dapat memastikan jenis pohon yang sering tumbang. Sebab pohon tumbang tak melulu dipengaruhi usia dan diameter batang. Juga dipengaruhi akar yang jadi salah satu faktor kekuatan pohon.

“Biasanya pohon itu, kalau akar tunggangnya tegak lurus ke bawah, dia (pohon) kuat kalau ada angin cukup kencang di wilayah tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman akan melakukan pemetaan kawasan yang memiliki banyak pohon rawan tumbang. Kabid Kebersihan dan Pengelolaan RTH DLH Sleman Junaidi memperkirakan, sekitar 100 batang pohon di Sleman rawan tumbang. Itu merupakan pohon perindang jalan.

Dia menyebut, kondisinya sudah kering dan sukar diobati. Titik keberadaan pohon-pohon ini menyebar di sejumlah wilayah di Sleman, dan jalan satu-satunya untuk mengatasi itu adalah menebangnya.

“Kalau untuk usia pohon tidak sampai 100 tahun, paling tua sekitar 50 tahun. Untuk jenis-jenisnya angsana, mahoni, glodokan, tanjung, dan bungur, ” ungkapnya.

DLH akan mengamati lagi titik-titik keberadaan pohon rawan tumbang. Untuk saat ini, prioritas pengamatan di kawasan yang kerap terdampak bencana. “Tanpa mengabaikan wilayah lain yang tidak potensi bencana,” kata Junaidi. (har/iwa/rg)

Sleman