SLEMAN – Memasuki musim kemarau, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, menargetkan bisa panen gabah kering sebanyak 6 ton per hektare. Saat ini, ketersediaan air sudah mulai berkurang.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, DP3 Sleman, Rofiq Andriyanto mengatakan, pada periode musim tanam (MT) April-September pihaknya menargetkan bisa menambah luas tanam padi seluas 19 ribu hektare. Hal itu agar dapat mencukupi kebutuhan beras saat musim kemarau.

“Sebab, kalau melihat kondisi saat ini, musim kemarau diprediksi akan berlangsung panjang,” kata Rofiq saat dihubungi Rabu (26/6).

Luas tanam padi di Sleman dari bulan Januari sudah mencapai 12 ribu hektare. Untuk dapat memenuhi target luas tanam hingga Septeber tersebut, pihaknya diminta untuk bisa menambah luas tanam padi. Per bulan minimal 3.000 hektare. “Tapi ini berat. Karena air sudah mulai tidak ada,” ungkap Rofiq.

Tantangan lain untuk merealisasikan target tersebut adalah pola tanam petani yang berubah saat masuk musim kemarau. Dimana untuk menanam padi dibutuhkan banyak air saat awal MT. Dengan minimnya ketersediaan air, maka para petani memilih menanam palawija atau tanaman lain yang tidak terlalu membutuhkan banyak air.

Sebelum para petani benar-benar mengganti pola tanam, para petani biasanya masih mencoba untuk menanam padi sekali. Dari sisa lahan yang ada, pihaknya mentargetkan masih bisa panen gabah kering sebanyak 6 ton per hektare.

“Musim tanam yang lalu, masih bisa panen 280 ribu ton gabah kering. Harapannya, pada musim kemarau ini bisa separonya. Tapi hal itu tergantung pada luas lahan dan pola tanam. Saat ini lahan di Sleman juga sudah banyak yang berkurang,” kata Rofiq.

Salah seorang petani di Kecamatan Mlati yang tengah memanen padi, Tugirah, 53 tahun, mengatakan saat musim kemarau, jumlah panen padi mengalami penurunan. Saat cuaca bagus, dari 1.200 meter persegi luas sawah, Tugirah bisa panen sebanyak 7 kuintal. “Tapi kalau kemarau, hanya dapat 4 kuintal,” ungkap Tugirah.

Setelah selesai panen padi, Tugirah akan menanam palawija. Sebab ketersediaan air di Mlati juga banyak berkurang. “Daripada memaksakan menanam padi, malah jadi gagal karena air tidak mencukupi,” tandas Tugirah. (har/iwa/fj)

Sleman