SLEMAN – Pemungutan suara (pencoblosan) Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 digelar Rabu (17/4). Salah satu yang harus diperhatikan adalah tempat pemungutan suara (TPS) harus ramah terhadap kaum difabel.

Biasanya lokasi TPS meminjam rumah warga atau di pusat kegiatan warga. Sehingga akses untuk pemilih difabel kadang terkendala.

Demikian yang dirasakan Rieza Candra Gunawan, 28, warga Dusun Sideorejo, Hargobinangun, Pakem saat mengikuti pemungutan suara pada Pemilu 2014. TPS saat itu, tidak ramah terhadap pemilih difabel.

“Saya kesulitan bergerak dengan kursi roda,” ungkap Rieza di sela simulasi pencoblosan Kamis (4/4).

Menurut Rieza, rumah warga yang digunakan sebagai TPS beragam. Ada yang luas. Ada yang sempit. Tidak semua rumah warga ramah difabel. “Kadang ada anak tangganya. Sehingga kami yang memakai kursi roda harus dibopong,” keluh Rieza.

Saat simulasi Kamis(4/4), Rieza tidak mengalami kendala. Bilik suara dinilai dia cukup luas. Namun jarak antarbilik harus diperlebar. “Agar pemilih di kanan atau kiri, tidak tahu pilihan pemilih lain,” kata Rieza.

Kendala lain, ketinggian meja. Rieza meminta agar disesuaikan. Karena dia tidak mungkin berdiri saat mencoblos. “Kendala lain, waktu melipat surat suara butuh waktu agak lama,” ujar Rieza.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman, Trapsi Haryadi mengatakan, mendorong petugas tingkat kecamatan maupun desa bisa menciptakan TPS ramah difabel. Ukuran pintu disesuaikan. Agar sirkulasi orang keluar masuk TPS mudah.

“Termasuk tidak berundak (anak tangga), ketinggian meja dan bilik juga disesuaikan (untuk difabel),” kata Trapsi.

Dia telah menyiapkan surat suara untuk penyandang tunanetra. Di Sleman ada 402 penyandang tunanetra yang masuk daftar pemilih tetap (DPT). “DIJ sudah ada template-nya. Saat ini, kami masih mendata lagi jumlahnya,” ujar Trapsi.
Di Sleman terdapat 3.391 TPS. Selain TPS di dusun, ada juga TPS di rumah sakit, lembaga pemasyarakatan, dan panti jompo. (har/iwa/mg3)

Sleman