SLEMAN – Pembangunan Underpass Kentungan tidak sepenuhnya diketahui pengemudi kendaraan berat. Terbukti, sejak mulai dibangun Jumat (18/1), masih ada kendaraan besar melintas. Mereka pun terjebak kemacetan.

Kasatlantas Polres Sleman, AKP Faisal Pratama mengakui, ada kendaraan besar yang nekat masuk Perempatan Kentungan. Dia menduga, belum semua pengemudi paham pembangunan Underpass Kentungan.

“Awalnya memang ada yang terjebak. Alasannya tidak tahu, atau tidak membaca peringatan. Tapi seiring waktu, volume kendaraan besar mulai berkurang,” kata Faisal (20/1).

Dia mengakui ada kelemahan penjagaan. Terutama personel Satlantas di lokasi masuk Underpass Kentungan. Mengantisipasi kelemahan tersebut, jajarannya berkoordinasi dengan Satker Perencaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) DIJ.

Rambu peringatan sudah terpasang di Prambanan, Maguwoharjo, Tempel dan Gamping. Kendaraan besar memang dilarang melintas. Hanya kendaraan pribadi yang diizinkan melintas.

Mengurai kemacetan, Satlantas DIJ berkoordinasi dengan Area Traffic Control System (ATCS) Dishub DIJ. Kebijakan berupa evaluasi durasi waktu alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL). Khusus Perempatan Kentungan ada perubahan durasi.

“Ritme fase hijau Perempatan Kentungan sisi barat dan timur jadi 60 detik. Awalnya 30 detik. Sisi utara selatan jadi 20 detik. Awalnya 50 detik. Durasi lampu hijau barat dan timur diperpanjang,” ujar Faisal.

Lolosnya kendaraan besar menjadi evaluasi. Berlangsung dua minggu sekali, melibatkan forum lalu lintas DIJ. Anggotanya, Ditlantas Polda DIJ, Dinas Perhubungan Sleman dan DIJ, hingga Satker P2JN DIJ selaku penanggungjawab proyek.

“Pertimbangan evaluasi pada weekend, Jumat, Sabtu dan Minggu. Karena rentang hari ini tergolong padat. Di luar ruas itu, area Monjali dan Affandi relatif landai. Tapi mendekati Kentungan ada penumpukan,” kata Faisal.
Satker P2JN DIJ melalui penanggungjawab proyek telah menyiapkan u-turn (lokasi balik arah). Lebar setiap titik putar mencapai sebelas meter. Untuk kendaraan besar, lebar ini ideal.

Salah satu flag-man penjaga u-turn, Mohammad Fahrudin mengungkapkan, setiap hari masih ada kendaraan besar terjebak kemacetan. “Setiap titik u-turn dijaga lima sampai enam orang (flag-man). Pembatas jalan jalur dicopot. Agar kendaraan besar mudah memutar. Sejauh ini tidak ada masalah,” jelas Fahrudin. (dwi/iwa/fn)

Sleman